Iklan

Dengan Hidroponik Berjuang Membenahi Desa


Ana (42 tahun) seorang petani hidroponik di Karawang sedang memanen hasil taninya, Sabtu (30/12). tirto.id/Jay Akbar

Ana (42 tahun) seorang petani hidroponik di Karawang sedang memanen hasil taninya, Sabtu (30/12). tirto.id/Jay Akbar

Tanaman hidroponik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membuat suasana desa lebih asri.

“Masyarakat di sini dulunya petani. Tapi setelah ada industri otomatis sawah habis. Masyarakat mau kemana?”

Ana (42 tahun) mengenang perubahan tempat kelahirannya Desa Kutanegara, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang dengan nada suara masygul dan air muka pasrah. Menurutnya kehadiran ratusan pabrik di kawasan Karawang International Industry City (KIIC) tidak saja menyudahi sebagian besar sandaran hidup masyarakat, tapi juga berdampak tak sedap bagi lingkungan. “Begitu [industri] dimulai ada panas, debu, dampaknya gersang,” kenang Ana kepada Tirto Sabtu (31/12).

Namun bapak tiga anak ini sadar, keluhan tidak akan menyelesaikan persoalan. Dekade 2015 ia bersama sejumlah masyarakat desa lainnya mendatangi PT Daihatsu Astra Motor di KIIC. Mereka meminta perusahaan ikut membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Kala itu Ana mengusulkan agar jalan menuju pintu masuk desa ditanami beragam jenis pohon buah-buahan. Usul itu dikabulkan.

“Ada sekitar 450 tahun yang ditanam di sepanjang 500 meter. Ada pohon belimbing, jambu, sawo, dan mangga,” ujar Ana.

Dua tahun sejak penanaman pertama, pohon-pohon itu tumbuh merindangi jalan. Gersang terselesaikan.

Persoalan selanjutnya adalah lapangan pekerjaan. Ana mengakui sejumlah perusahaan di KIIC membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk bekerja. Namun tak semua warga bisa memanfaatkan kesempatan itu lantaran terbentur persyaratan pendidikan. Ana mengatakan sebagian besar warga desa seusianya hanya lulusan sekolah dasar. Kalau pun ada yang berhasil dipekerjakan, paling banter hanya menjadi buruh bongkar muat perusahaan. “Saya tidak tamat SD. Cuma kejar Paket A. Waktu itu zaman susah,” kata Ana mengenang masa lalunya.

Awal tahun 2017 kesempatan memperbaiki kesejahteraan akhirnya datang. Salah seorang karyawan dari divisi Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu Astra Motor menghubungi Ana. Sang karyawan memberi kabar tentang adanya pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik di kantor pusat Astra bilangan Sunter Jakarta Utara. Ana dipersilakan datang jika berkenan. “Tanpa pikir panjang bagaimana ongkosnya saya langsung berangkat. Karena [pelatihan] sifatnya ilmu,” ujar Ana.

Pelatihan berlangsung selama satu hari. Dari sana Ana mengaku mendapatkan dasar-dasar ilmu bercocok tanam bersistem hidroponik. Namun ia tidak percaya begitu saja dengan teori-teori yang diberikan. Dalam benaknya: “Masa iya bisa menanam pohon tanpa tanah.”

Didorong rasa penasaran dan keinginan mengakhiri problem kesejahteraan di desanya, Ana nekat mempraktikan ilmu yang ia dapat. Bermodal uang pribadi Rp3.000.000 untuk membeli pipa air sebagai media tanam, nutrisi tanaman, dinamo, dan beberapa perkakas lainnya ia mulai menanam aneka jenis sayuran. Pekarangan rumahnya menjadi “laboratorium” percobaan pertama.

Hasil coba-coba itu ternyata membuahkan hasil menggembirakan. Aneka sayur mayur mulai dari pakcoy, kangkung, selada bokor, bayam hijau, dan bayam merah tumbuh subur. Hasil panen pertamanya itu ia foto dan laporkan ke pihak Daihatsu melalui pesan whatsapp.

Menerima laporan Ana, pihak perusahaan merespons positif. Dana CSR sebesar Rp30.000.000 —yang dibagi dalam dua tahap— dikucurkan untuk Ana mengambangkan usaha. Ana memanfaatkan modal itu untuk mengakumulasi media cocok tanam hidroponik di pekarangannya. Sejak itu usaha hidroponik Ana semakin berkembang. Tak cuma menjual produknya di warung-warung sayur kampung, produk hidroponik Ana bahkan berhasil menembus supermarket ternama seperti Transmart dan Carrefour.

Ana menghitung satu pohon sayuran pakcoy yang ia tanam menghabiskan modal Rp600 dengan harga jual Rp2000. Apabila dalam sehari ia bisa bisa menjual 10 pohon pokcai di 15 warung kampung maka omzet perhari yang ia dapatkan adalah Rp300.000 dengan keuntungan bersih rata-rata Rp210.000 per hari. Belum termasuk untung dari kangkung, selada bokor, bayam merah, dan bayam hijau. “Ini sambil tiduran juga bisa hasilkan uang, kalau kita mau fokus,” ujarnya.

Perlahan masyarakat desa mulai melirik bisnis yang digeluti Ana. Kepada mereka Ana tak segan berbagi ilmu. Baginya semakin banyak masyarakat yang menggeluti bisnis hidroponik justru akan semakin baik. Sebab selain bisa mengangkat perekonomian masyarakat, ia juga bisa mengembangkan bisnisnya ke sektor penyediaan jasa pembuatan hidroponik, penjualan nutrisi dan bibit, serta pemasaran. “Ada sih yang ingatkan ilmu berharga jangan diumbar. Saya sih gak masalah,” katanya.

Ana mengatakan hidroponik merupakan sistem cocok tanam yang paling relevan untuk dikembangkan di desanya. Sebab sistem ini tidak membutuhkan lahan luas, bernilai jual tinggi, dan lebih menyehatkan untuk dikonsumsi karena terbebas dari pestisida. “Ini kan (sayuran hidroponik) secara umum konsumsi orang kaya. Dengan hadirnya di sini masyakat bisa merasakan. Sehingga kesehatan masyarakat lebih terjaga,” ujar Ana.

Di tahun 2018 Ana bertekad menjadikan Desa Kutanegara sebagai desa hidroponik. Ia memproyeksikan dari 43 gang yang ada di desa bisa ditanami 1.700 tanaman hidroponik. Ia melihat ribuan karyawan yang bekerja di kawasan KIIC merupakan potensi pasar yang besar. “Jangan bicara pemasaran ke luar dulu. Di sini ada ribuan karyawan, pasarnya belum tergarap dan tergali,” katanya.

Ana juga yakin tanaman hidroponik bukan saja akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desanya, tapi juga membuat suasana kampung lebih teduh dan asri. “Selain memberi nilai ekonomi masyarakat, hidroponik juga bisa untuk penghijauan,” ujarnya.

Tati salah satu pemilik warung di Desa Kutanegara mengakui sayuran pakcoy hidroponik dari Ana cukup digemari pembeli. Hal ini karena sayuran itu lebih segar dan harganya terjangkau. Ia menjual sayuran pakcoy dari ana sehargar Rp3000 perpohon. “Rasanya tidak pahit, beda dengan sawi biasa,” ujarnya.

Pinus Lingga dalam Hidroponik: Bercocok Tanam Tanpa Tanah menyebut istilah hidroponik digunakan untuk menjelaskan tata cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Model cocok tanam semacam ini menurutnya telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu oleh masyarakat Babilonia dan Cina.

Pada tahun 1936 istilah hidroponik diberikan untuk hasil tanaman tomat yang dikembangkan seorang agronomis Universitas California Amerika Serikat DR. WF. Gericke. Ia berhasil menanam tomat hingga setinggi tiga meter dengan buah melimpah dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya. “Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics [yang berarti] bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah,” kata Pinus.

Pinus mengatakan ada 10 keuntungan dari sistem cocok tanam hidroponik: 1) perawatan lebih praktis serta gangguan hama lebih terkontrol. 2) Hemat pemakaian pupuk. 3) Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru. 4) Tidak membutuhkan banyak tenaga kasar karena metode kerja lebih hemat dan memiliki standarisasi. 5) Tanaman dapat tumbuh lebih pesat dan dengan keadaan yang tidak kotor. 6) Hasil produksi lebih tinggi dan berkelanjutan. 7) Harga jual lebih tinggi. 8) Bisa dibudidayakan di luar musim. 9) Tidak ada risiko banjir, erosi, kekeringan, dan ketergantungan terhadap kondisi alam. 10) Dapat dilakukan pada lahan terbatas.

Departement Head CSR Astra Daihatsu Motor Rony Hapsoro mengatakan perusahaan bersedia menggelontorkan dana CSR kepada Ana dan warga Desa Kutanegara lantaran turut bertanggung jawab terhadap kondisi yang ada. Rony mengaku bangga dengan pencapaian yang telah dihasilkan Ana. Ia menyatakan perusahaan siap mewujudkan impian Ana menjadikan hidroponik sebagai identitas Desa Kutanegara. “Kami bermimpi menjadikan Desa Kutanegara sebagai desa hidroponik,” katanya.

sumber: tirto.id

Iklan

NUR HAMDANI, GELUTI TANAMAN SAYURAN HIDROPONIK DI KAMPUNGNYA


Nur Hamdani saat merawat tanaman sayuran hidroponik di belakang rumahnya.

PURBALINGGA, INFO – Berbekal pengalaman dari teman-temannya yang sukses menggeluti tanaman sayuran hidroponik, Nur Hamdani (34) warga Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, kini terjun menggeluti budidaya sayuran hidroponik. Di areal yang tidak begitu luas di kampung halamannya itu, sejak bulan Juni 2017 silam, Nur menanam berbagai jenis tanaman sayuran secara hidroponik. Semula, Nur bekerja membantu keluarga dan kakaknya membuat berbagai aneka kerajinan bambu.

“Saya mulai membudidayakan tanaman hidroponik saat teman-teman banyak yang berhasil. Setelah saya ikut belajar, akhirnya terjun sendiri memanfaatkan lahan di belakang rumah,” kata Nur Hamdan, Jum’at (2/3).

Diungkapkan Nur, cara bertanam hidroponik menjadi booming dan trend di sebagian masyarakat. Teknik bercocok tanam ini semakin disukai banyak kalangan. Cara bertanam hidroponik adalah cara bertanam tumbuhan menggunakan media air, nutrisi dan oksigen. “Saya membangun rumah kaca sendiri berukuran 8 x 18 meter di belakang rumah. Saya tanam berbagai jenis sayuran seperti bayam merah, pokcay, sawi dan sayuran lainnya,” ungkap Nur.

Untuk modal membuat sarana tanaman hidroponik, Nur mengaku telah menghabiskan dana sekitar Rp 60 juta. “Jika dihitung, modal itu sampai sekarang belum kembali, namun karena saya senang menggeluti budidaya tanaman hidroponik, maka perhitungan keuntungan belum saya cermati,” kata Nur yang merawat tanaman itu sendiri dengan dibantu istrinya.

Nur mencontohkan, untuk tanaman sawi, dirinya bisa menjual satu kilogram ke supermarket di Purwokerto seharga Rp 15 ribu. Kalau ada pembeli yang datang ke rumahnya, mereka bisa memilih dan memetik sendiri. Harganya hanya sekitar Rp 12 ribu. “Permintaan sayuran hidroponik sebenarnya cukup baik. Supermarket di Purwokerto dan juga permintaan beberapa hotel, tidak sanggup dicukupinya,” kata Nur.

Sistem penjualan yang dilakukan Nur dengan bergabung bersama sejumlah petani sayuran hidroponik lainnya di Purwokerto. Setelah hasil panenan dikumpulkan, barulah dikirim ke hotel atau super market yang meminta. “Untuk tanaman afkir, biasanya dijual di pasar Panican Kemangkon. Atau, saya manfaatkan sendiri untuk dijual sebagai bahan lalapan. Kebetulan, ibu saya membuka usaha kuliner makanan tahu banting. Tahu yang telah dibumbui itu, ditempatkan dalam satu wadah cobek dari tanah liat dan dilengkapi lalapan sayuran,” kata Nur.

Nur mengaku akan terus mengembangkan budidaya sayuran secara hidroponik ini. Saat ini, sudah mulai banyak pengunjung yang datang untuk membeli sayuran di kebunnya, sekaligus berfoto-foto di dalam arena kebun. Selain itu, beberapa anak-anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak dari tetangga desanya, juga diajak ke kebun miliknya, untuk sekedar mengenal budidaya tanaman hidroponik. “Konsumen dari kalangan keluarga, sudah mulai banyak yang tahu tempat kami. Mereka datang untuk membeli sayuran hidroponik, dan beberapa diantaranya sembari menikmati makanan tahu banting,” tutur Nur.

Khusus untuk kuliner tahu banting, kata Nur, disebut demikian karena cobek yang digunakan setelah makan bisa langsung dibanting. Satu porsi tahu banting dihargai Rp 10 ribu. “Cobek yang dipakai alas tahu itu, setelah selesai untuk makan,. Bisa langsung dibanting. Hal ini dimaksudkan untuk membantu perajin gerabah cobek agar tetap laku. Kalau cobeknya dipakai lagi, nanti pedagang cobeknya tidak laku,” ujarnya setengah promosi.

Untuk menikmati kuliner ini, pengunjung juga bisa bersantai di gubug bambu di sekitar lahan budidaya tanaman hidroponik. Hamparan sawah yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari gubug itu semakin menambah suasana alami pedesaan yang sejuk. (PI-1)

 

sumber: jatengprov.go.id

Merdeka dengan Sistem Otomasi Hidroponik


Merdeka dengan Sistem Otomasi Hidroponik

Sistem Otomasi Hidroponik

(UKWMS-14/8/2017) Ada banyak cara merayakan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke 72 tahun ini, dua tim mahasiswa dan dosen dari Fakultas Teknik (FT) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memilih untuk merayakannya dengan berkarya. Dua buah rangkaian Teknologi Tepat Guna (TTG) berhasil mereka inovasikan dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan ilmu yang mereka dalami di Jurusan Teknik Elektro FT UKWMS. Adalah Maria Angela Kartika dengan karyanya Otomasi Sistem Hidroponik NFT dan Fandri Christanto dengan Mesin Pengering Otomatis Hemat Energi yang baru tanggal 12 Agustus 2017 kemarin meraih gelar juara 3 dan juara harapan pertama dalam Lomba Pengolahan Hasil Perikanan dan Teknologi Tepat Guna yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

“Belum pernah ada alat untuk mengendalikan sistem hidroponik yang otomatis menutrisi sayuran yang ditanam, sekaligus mengendalikan kadar nutrisi dalam air yang dipergunakan sesuai kebutuhan yang ditetapkan,” demikian terang Andrew Joewono ST., MT selaku dosen yang menelurkan ide yang lantas diwujudkan oleh Angela dalam karyanya tersebut. “Ya awalnya saya ingin menciptakan suatu alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua saya saat pensiun nanti. Kalau sistemnya otomatis begini, kan lebih merdeka dari kerepotan bertani hidroponik yang pada umumnya,” tutur Angela yang menyelesaikan karyanya di bawah bimbingan Yuliati, S.Si., MT dan Drs. Peter R. Angka M.Kom tersebut.

Yuliati_Peter R Angka (Dosen Pembimbing) dan Angela saat memeragakan sistem otomasi hidroponik NFT

Selain demi orangtuanya, ide Angela ternyata juga bermula dari keprihatinan atas kurangnya lahan yang dapat digunakan untuk bercocok tanam di Surabaya. Berdasarkan sistem berlahan menggunakan Hidroponik, kelebihan dari mesin inovasinya adalah mampu diaplikasikan dengan lahan terbatas dan juga lebih hemat biaya listrik karena ada periode pompa. Ia berhasil memodifikasi sistem aliran air menggunakan dua tandon, dari bawah dipompa ke atas, sehingga ketika tandon atas sudah penuh secara otomatis pompa akan mati dan sistem dapat bekerja tanpa menarik daya listrik. “Kira-kira yang dihemat dalam konsumsi daya adalah 37,77 Kwh atau bila dirupiahkan dengan asumsi batas daya 1300VA kurang lebih adalah 55.000 Rupiah,” terang gadis kelahiran Malang tersebut. Mesin ini juga mampu untuk menyeimbangkan kadar nutrisi yang dibutuhkan tanaman dengan cara mengatur alat menggunakan sensor TDS (Total Dissolved Solid) sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Keunikan lain dari karya Angela adalah ia berhasil memanfaatkan beberapa barang bekas untuk membangun sistem tersebut. Tandon air yang dipergunakan adalah gentong plastik bekas bahan kue, selain itu rangka besi penunjang alat didapatkan dari beberapa tempat loak. Sebagai rangka ‘meja’ tanaman hidroponik sayuran berdaun yang ia tanam, Angela menggunakan beberapa batangan galvalum yang ia rakit sendiri. Setelah melalui proses coba salah berulang kali selama enam bulan, akhirnya jadilah serangkaian alat berdimensi panjang tiga meter kali lebar satu meter dengan tinggi dua meter. Alat tersebut ditunjang dengan sebuah ‘menara’ yang mengusung dua buah tandon air dengan sistem pemberi nutrisi di bagian tengahnya. (Red)

sumber: ukwms.ac.id

Menanam Tanaman Hidroponik


Pengertian hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, budidaya tanaman ini lebih mengutamakan media air yang telah di campur dengan nutrisi. Jenis metode yang di gunakan sangatlah beragam antara lain metode NFT, sistem drip, Walter culture dan sebagainya.

Mengetahui teknik menanam tanaman hidroponik dan mempelajari bagaimana cara untuk mempraktekannya. Saat ini luas lahan pertanian semakin menipis seiring meningkatnya lahan pemukiman. Jika hal ini di biarkan saja tentu akan sangat mengkhawatirkan pasokan bahan makanan yang di dapat dari pertanian.

Selain dengan meminimalisir pertambahan lahan pemukiman, untuk menghindari kekurangan bahan makanan anda juga memerlukan teknik baru dalam dunia pertanian.

Saat ini, muncul sebuah teknik penanaman tumbuhan yang dapat di lakukan di luar tanah, yaitu teknik hidroponik. Hidroponik sendiri sebenarnya adalah budidaya tanaman dengan penanaman di dalam air (memanfaatkan air), dan memprioritaskan terpenuhinya kebutuhan nutrisi tumbuhan.

Contoh tanaman hidroponik sayuran

Meskipun di tanam di dalam air, namun tumbuhan yang dibudidayakan dengan teknik ini membutuhkan lebih sedikit air, sehingga penamaan hidroponik ini sangat cocok di coba pada daerah yang memiliki pasokan air minim.

Kata Hidroponik sendiri di ambil dari bahasa Yunani yaitu Hydro yang artinya air dan ponos yang artinya daya. Sehingga ketika dua kata tersebut di satukan akan membentuk pengertian budidaya tanaman dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah menjadi media tanam (soiless).

Teknik penanaman sistem hidroponik ini sudah mulai di teliti sejak puluhan tahun lalu, atau kurang lebih sejak tahun 1672.  Hal ini di buktikan dengan adanya buku yang menuliskan tentang teknik penanaman hidroponik, yaitu buku karya Francis Bacom.

Sejak saat itulah penelitian tentang teknik hidroponik ini semakin di kembangkan dan akhirnya membuahkan hasil seperti saat ini.

Tanaman yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik

Dalam penelitian tersebut tentu tak lepas dari penelitian tentang tanaman apa saja yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik. Bahkan bisa di bilang aspek ini bisa di bilang merupakan salah satu aspek terpenting dalam penelitian.

Lalu apa sajakah tanaman yang bisa dibudidayakan dengan teknik hidroponik? Berikut ini penjelasannya :

  • Selada

tanaman-selada-hidrotonik

Tanaman yang sering kali di santap dalam keadaan mentah atau di sebut dengan lalapan ini merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik.

Selada ini merupakan salah satu tanaman yang paling subuh ketika dibudidayakan menggunakan teknik hidroponik.

Selain itu, keuntungan lain dari menanam selada dengan teknik hidroponik adalah perawatannya yang tidak ribet. Selada juga akan tumbuh dalam waktu yang cukup cepat, yaitu hanya dalam 2 minggu bibit selada yang telah di semai sudah bisa mengeluarkan 2 lembar daun.

  • Timun

tanaman-timun-hidroponik

Tanaman dengan rasa yang segar ini juga termasuk tanaman yang hasilnya memuaskan ketika dibudidayakan dengan teknik hidroponik. Akan tetapi untuk menanam timun secara hidroponik anda harus memperhatikan perawatannya dengan baik.

Pasalnya untuk bisa tumbuh baik hidroponik timun harus memerlukan cahaya yang cukup. Selain itu, ketika tanaman timun sudah mulai tumbuh besar anda juga harus menyediakan lahan yang cukup luas agar buah timun nantinya tidak rusak.

  • Sayuran berdaun hijau

sayuran-hujau-hidroponik

Selain selada, sayuran berdaun hijau lainnya seperti bayam, kangkung, dan sawi juga bisa di tanaman secara hidroponik. Tak kalah dengan selada, sayuran ini juga akan tumbuh baik ketika di tanam secara hidroponik.

Tips yang harus anda perhatikan untuk menanam sayuran hijau secara hidroponik yaitu jangan sampai membiarkan sayuran tersebut tumbuh terlalu besar. Sebab hal ini bisa menghambat sirkulasi udara yang berakibat sayuran menjadi layu bahkan mati.

  • Buah-buahan

buah-buahan-hidrotonik

Tak hanya sayuran, buah-buahan seperti hidroponik tomat, melon, dan cabe juga dapat dibudidayakan secara hidroponik. Agar buah-buahan tersebut tumbuh dengan baik, hal yang harus anda perhatikan yaitu nutrisi air serta asupan cahaya.

Sedangkan untuk tanaman berukuran besar seperti melon, jangan lupa untuk menyediakan lahan yang cukup luas.

Dan masih banyak lagi jenis tanaman yang dapat di tanam dengan metode hidroponik, nanti akan di bahas satu per satu di situs sistemhidroponik.com

Media yang digunakan dalam menanam tanaman hidroponik

Selain mengetahui tanaman apa saja yang dapat dibudidayakan secara hidroponik, tentu anda juga harus mengetahui media apa saja yang harus di siapkan untuk menanam tanaman hidroponik.

Untuk menanam tanaman hidroponik anda tidak memerlukan unsur hara, namun yang anda perlukan antara inert yang akan berfungsi sebagai buffer dan penyangga tanaman. Media tersebut antara lain adalah :

  • Arang sekam

arang-sekam-hidroponik

Media menanam tanaman hidroponik yang satu ini bisa di bilang sebagai media utama. Pasalnya, media yang terbuat dari ampas padi ini atau di sebut dengan media arang sekam mampu memberikan hasil yang terbaik untuk tanaman sayur-sayuran. Tidak hanya itu, arang sekam juga baik untuk pembibitan pohon.

  • Spons

spons-untuk-hidroponik

Jika anda biasanya menggunakan benda yang satu ini untuk mencuci piring, saat ini spons bisa anda gunakan untuk media menanam tanaman hidroponik.

Kegunaan spons untuk tanaman hidroponik di buktikan dengan tumbuhnya lumut bahakn rumput saat spons di diamkan di luar ruangan dan mendapat air serta cahaya yang cukup. Spon juga dapat di gunakan untuk pembibitan tanaman hidroponik

  • Expanded clay

lahan-liat-hidroponik

Expanded clay yaitu semacam lahan liat yang di dalamnya sudah terkandung mineral. Penggunaan media ini sangat baik untuk proses penyemaian atau tanaman muda.

  • Rock wool

media-tanam-hidroponik

Media berikutnya merupakan media non-organik yang cara pembuatannya dengan meniupkan udara/uap pada batuan leleh. Dimana hasilnya adalah semacam fiber yang berongga.

  • Coir

serabut-kelapa-untuk-hidroponik

Coir atau yang lebih akrab di sebut serabut kelapa ini  merupakan media yang baik untuk proses pembibitan atau penyemaian.

Macam-macam pupuk yang di gunakan untuk menanam tanaman hidroponik

Sama seperti teknik menanam dengan media tanah, teknik menanam secara hidroponik juga membutuhkan pupuk untuk menutrisi tanaman. Namun jenis pupuk yang di gunakan antara teknik penanaman biasa dan hidroponik tentu saja berbeda.

Apa sajakah macam-macam pupuk yang dapat di gunakan untuk menanam tanaman secara hidroponik? Berikut ulasannya untuk anda :

  • Lewatit HD-5

Pupuk yang memiliki bentuk menyerupai gula pasir namun berwarna merah ini memiliki berbagai nutrisi yang baik untuk tumbuhan. Dalam 1 liter Lewatit saja mengandung 15 g N (dalam bentuk nitrat), 3 g N (dalam bentuk ammonium), 7 g P2O5 dan 15 g K2O.

Selain itu. Lewatit juga mengandung unsur mikro yaitu Fe, Cu, Mn, Bo dan Mo.- Meskipun di gunakan pada media taman air, namun Lewatit tidak larut dalam air, justru nutrisi pupuk hanya akan di tukar dengan ion dari garam yang sudah larut dalam air.

Lewatit ini sangat baik jika di gunakan pada tanaman hias. Cara pemberian pupuknya pun cukup mudah, anda hanya perlu menaburkan pada media penanaman hidroponik sejak tanaman masih berumur 2 minggu, setelah itu siram menggunakan air agar butiran pupuk turun ke bawah.

  • Margaflor

Berbeda dengan Lewatit, Margaflor yaitu pupuk hidroponik yang berbentuk cair. Nutrisi yang terkandung dalam Margaflor sendiri tidak kalah lengkap dan baiknya, antara lain mengandung unsur mikro yaitu N 11,28 %, P2O5 5,7 %, K2O 7,84 % dan S 3,37 % serta unsur-unsur mikro : Fe, Cu, Mn, Mg, Zn, Mo, Ce, B dan Co.

Anda bisa menyiramkan pupuk ini setiap 1-2 minggu sekali pada tanaman hias, yaitu sejak tanaman berumur 3 minggu setelah di pindahkan ke media hidroponik. Sedangkan untuk sayuran, pupuk ini bisa di gunakan sejak tanaman berumur 2 minggu.

Baca juga info tentang dasar dari sistem tanam hidroponik

Semoga info tentang teknik menanam hidroponik di atas bermanfaat bagi anda. Silahkan simpan atau bookmark situs ini untuk mendapatkan informasi mengenai tanaman hidroponik.

Video contoh tanaman hidroponik jenis sayuran

sumber: http://www.sistemhidroponik.com

Bertanam Cabe Hidroponik


Literatur Review

Pada posting ini saya mencoba melakukan pengumpulan referensi yang dapat dipelajari terkait dengan menanam cabe secara hidroponik.

Budidaya Tanaman Hidroponik Cabe memiliki beberapa keuntungan utama dibandingkan dengan budidaya tanaman cabe secara konvensional, antara lain  :

  • Tidak memerlukan tanah yang subur, karena teknik budidaya tanaman secara hidroponik hanya menggunakan air sebagai media tumbuh tanaman. Sehingga kita tidak memerlukan lahan yang selalu subur untuk dapat berbudidaya tanaman cabe.
  • Pertumbuhan tanaman lebih optimal, tanaman hidroponik cabe dapat tumbuh lebih optimal dibandingkan tanaman cabe konvensional. Hal ini dikarenakan nutrisi yang tersedia didalam air, dapat diserap secara maksimal oleh tanaman. Sehingga pertumbuhan lebih cepat dan optimal.
  • Hama tanaman lebih mudah dikontrol. Teknik hidroponik akan memudahkan petani untuk melakukan kontrol terhadap serangan hama, hal ini dikarenakan lingkungan tumbuh yang bersih sehingga meminimalisir pertumbuhan hama atau penyakit yang dapat merugikan tanaman.
  • Masa panen tanaman yang lebih panjang dan optimal. Tanaman hidroponik cabe mampu menghasilkan panen sepanjang bulan, setelah melewati masa vegetatif selama 3 bulan. Pada masa generatif, tanaman cabe hidroponik akan mampu terus memberikan hasil panen ketika nutrisi yang diperlukan tanaman tersedia dengan baik. Sehingga hasil panen akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabe konvensional.
Disamping beberapa keutamanan tanaman hidroponik cabe tersebut, budidaya secara hidroponik juga memiliki beberapa kekurangan, yakni nilai investasi pertama yang cukup mahal, Karena harus membeli beberapa peralatan dan nutrisi.
Sistem hidroponik yang paling sesuai digunakan dalam tanaman hidroponik cabe adalah sistem Dutch Bucket. Dengan sistem ini, tanaman cabe akan mampu tumbuh dengan maksimal karena memiliki ruang tumbuh akar yang cukup luas. Dengan space tersebut, akar dapat bekerja dengan maksimal dapat menyerap dan menyalurkan nutrisi, sehingga hasil panennya pun akan maksimal.
tanaman-hidroponik-cabe
Langkah-langkah persiapan penanaman adalah sebagai berikut.

Pemilihan Benih Cabe

Rendam benih cabai  dalam air hangat selama kurang lebih 3 jam. Biji yang tenggelam pada umumnya lebih
baik untuk ditanam dibanding yang tidak tenggelam.

Penyemaian Benih Cabe

1. Pembuatan Media Semai

Campur tanah bagian atas (/top soil/ atau berhumus) dengan pupuk kompos
atau pupuk kandang dan arang sekam dengan komposisi perbandingan 1:1:1.
Masukkan media semai ke dalam polybag
mini (ukuran 8 x 9 cm). Anda juga dapat menggunakan baki (/seedling
tray/) .

2. Penanaman Biji

Tanam setiap biji cabe ke dalam polybag mini (satu cabai dalam 1
polybag). Buat lubang sedalam 0,5 cm di tengah media semai. Media semai
dibasahi sedikit untuk menjaga kelembaban.

3. Perawatan Bibit

Bibit disiram setiap pagi dan sore hari menggunakan semprotan halus agar
tidak merusak bibit dan media semai. . Tips penyiraman: Tutup permukaan
polybag dengan kertas koran kemudian siram kertas koran hingga basah.
Kertas koran dibuka setelah biji tumbuh yaitu sekitar 3 hari.

Bibit cabe siap dipindahkan ke media tanam hidroponik kultur polybag
setelah 21-24 hari atau setelah bibit cabe memiliki 4-5 helai daun.
Bibit harus dirawat dan dijaga dari gulma. Jika ada gulma segera lakukan
penyiangan.

2. Metode Hidroponik dengan Kultur Polybag

A. Penyiapan Lahan dan Peralatan Hidroponik

Siapkan tempat untuk kegiatan bercocok tanam hidroponik. Kemudian pasang
peralatan hidroponik seperti bak/wadah nutrisi, selang pompa utama/pipa,
dan selang-selang plastik. Jumlah selang plastik disesuaikan dengan
jumlah polybag yang akan Anda gunakan. Setiap polybag dipasang 1 selang
plastik. Selang-selang plastik dihubungkan pada selang pompa utama bak
nutrisi.

Metode Hidroponik dengan Kultur Polybag

B. Penyiapan Wadah dan Media Tanam

Polybag ukuran 40 cm disarankan untuk digunakan untuk penanaman cabe
(minimal ukuran polybag di atas 30 cm). Media tanam yang disarankan
untuk cabe adalah campuran antara arang sekam dan pasir dengan
perbandingan 2:1. Campuran arang sekam dan pasir dapat menahan larutan
nutrisi dengan baik dan campuran keduanya memiliki aerasi yang baik.
Masukkan media tanam ke dalam polybag dan beri lubang di tengah-tengah
media dengan kedalaman 5-7 cm. Anda juga bisa menggunakan rockwool
sebagai media tanam, namun harga media ini relatif mahal.

C. Pemindahan dan Penanaman Bibit

Lakukan pemindahan bibit secara hati-hati jangan sampai merusak akar
tanaman. Robek polybag mini tempat penyemaian, pindahkan bibit dan media
semai seluruhnya ke dalam lubang media hidroponik di polybag besar.
Pemindahan bibit disarankan pada saat sore hari saat matahari tidak
terlalu menyengat. Bibit akan tampak layu setelah 2-3 hari pemindahan
namun akan segar kembali asalkan perakaran masih baik (tidak ada akar
yang terluka).

D. Pemberian Larutan Nutrisi

Susun polybag secara teratur. Letakkan selang-selang plastik pengalir
nutrisi pada masing-masing polybag. Larutan nutrisi harus mencukupi
kebutuhan nutrisi tanaman. Unsur makro seperti N, P , K, Ca, dan Mg
harus dipenuhi. Anda dapat menggunakan pupuk AB mix, atau pupuk hidroponik
lainnya (anorganik maupun organik). Campur pupuk dengan air di bak
nutrisi, lalu alirkan larutan nutrisi ke masing-masing polybag yang
berisi bibit tanaman cabe.

E. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman yang utama meliputi penyiraman, pengajiran, dan
pemangkasan. Penyiraman tanaman cabe dengan larutan nutrisi dilakukan
sebanyak 5-8 kali sehari. Anda disarankan menggunakan timer pada selang
pompa utama agar tidak memerlukan tenaga ekstra.

Larutan nutrisi yang diberikan sebaiknya dilakukan dengan cara irigasi
tetes atau fertigasi. Larutan nutrisi yang diberikan jangan dalam jumlah
banyak sekaligus, namun sedikit-demi sedikit asal cukup membasahi media
tanam di polybag.

Pemeliharaan Cabai Hidroponik

Pengajiran dilakukan pada tanaman yang kurang lebih berumur 1 minggu
atau memiliki tinggi kurang lebih 20 cm dengan menggunakan tongkat
bambu. Ajir berfungsi sebagai media penopang tanaman agar dapat tumbuh
tegak. Ajir diletakkan di media tanam dengan jarak kurang lebih 4 cm
dari pangkal batang. Pemangkasan tunas-tunas muda yang tumbuh di ketiak
daun mencegah tanaman tidak tumbuh ke sampingketika batang belum terlalu
kuat menopang. Lakukan pemangkasan pada hari ke-20 setelah tanam.

Demikian tahap-tahap utama dalam penanaman cabe dalam polybag dengan
metode hidroponik. Saat melakukan penanaman, perhatikan kondisi optimal
tanaman cabe. Tanaman cabe menyukai suhu 24-28oC, kelembaban 80%, kadar
pH 6-7, curah hujan 800-2.000 mm per tahun, dan intensitas cahaya
matahari sekitar 70%. Perawatan teratur akan membuat tanaman tumbuh
subur. Jika timbul hama dan gulma segera lakukan penyemprotan pestisida
(disarankan yang alami) dan penyiangan.

Sumber:

PENGARUH KONTROL NUTRISI PADA PERTUMBUHAN KANGKUNG DENGAN METODE HIDROPONIK NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT)


 Abstrak

Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Tiga unsur utama dalam tanaman hidroponik yaitu, Air, cahaya dan juga nutrisi. Selain air tanaman hidroponik juga menggunakan media-media tanam seperti, serabut kelapa, batu bata, arang sekam, pasir, rockwool,busa, dsb. Sistem hidroponik dapat memberikan suatu lingkungan pertumbuhan yang lebih terkontrol. Dengan pengembangan teknologi, kombinasi sistem hidroponik dengan membran mampu mendayagunakan air, nutrisi secara nyata lebih efisien (minimalis system) dibandingkan dengan kultur tanah (terutama untuk tanaman berumur pendek). Kangkung merupakan sejenis sayuran daun yang dapat berumur panjang dan dapat tumbuh dengan cepat. Kangkung mempunyai daun panjang dengan ujung agak tumpul berwarna hijau, bunganya berwarna putih ke kuning-kuningan atau kemerah-merahan biasa ditanam di rawa-rawa, pinggir kolam atau tanah berlumpur. Sebagai pembanding dibuat juga sistem hidroponik NFT kontrol dan tanpa kontrol nutrisi, untuk mengetahui perbandingan anatara keduanya. Pada sistem hidroponik dengan kontrol nutrisi, nutrisi di 1100 ppm dengan tinggi rata-rata tanaman 53,08 cm, panjang akar rata-rata 24,7 cm, warna daun rata-rata 3, panjang daun rata-rata 17,6 cm. Untuk sistem hidroponik tanpa kontrol nutrisi memiliki ppm di 1178, tinggi rata-rata tanaman 41,6 cm, panjang akar rata-rata 22,9 cm, warna daun rata-rata 2,8, panjang daun rata-rata 16,1 cm.

sumber: urbanina.com

Pendahuluan

Kangkung merupakan sejenis sayuran daun yang dapat berumur panjang dan dapat tumbuh dengan cepat. Produksi kangkung di Indonesia cukup tinggi di tahun 2003-2006 rata-rata produksi meningkat sekitar 12,97% tetapi pada saat 2007 mengalami penurunan peningkatan produksi hal ini kemungkinan disebabkan varietas tanaman yang tidak cocok, kultur teknis yang kurang baik atau pengendalian hama/penyakit yang kurang efektif [1]. Salah satu daerah penghasil kangkung adalah Bogor. Peningkatan produksi kangkung di Bogor mencapai 56,66% ini disebabkan iklim cuaca di Bogor cocok dengan budidaya tanaman kangkung.

Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Tiga unsur utama dalam tanaman hidroponik yaitu, Air, cahaya dan juga nutrisi. Penggunaan sistem hidroponik tidak mengenal musim dan tidak memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan kultur tanah untuk menghasilkan satuan produktivitas yang sama.
Pada penelitian ini penulis melakukan kontrol nutrisi pada ppm yang paling bagus dan melihat hasil dari kontrol nutrisi yang dilakukan terhadap hasil pertumbuhan tanaman.

Dasar Teori

Hidroponik

Hidroponik adalah teknologi modern dalam penanaman tanpa menggunakan media tumbuh dari dalam tanah. Secara umum hidroponik berarti penanaman dalam air yang mengandung campuran hara yang berasal dari nutrisi. Tanaman hidroponik hanya membutuhkan air yang ditambahkan dengan nutrisi sebagai sumber makanan untuk tanaman hidroponik tersebut.


NFT (Nutrient Film Technique)

NFT (Nutrient Film Technique) adalah suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi, sehingga tanaman dapat memperoleh air, nutrisi dan oksigen.  Air yang berisi larutan nutrisi akan bersirkulasi terus menerus selama 24 jam dibantu dengan pompa.Kebutuhan dasar yang harus terpenuhi dalam sistem NFT (Nutrient Film Technique) adalah talang, tangki penampung dan pompa. Pompa berfungsi untuk mengalirkan nutrisi dari tangki penampung ke talang dengan bantuang selang atau pipa. Sirkulasi air pada sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) dapat dilihat pada gambar 2.1. larutan nutrisi yang berada di bak penampung air bersirkulasi melalui pompa air yaitu dari bak penampung air menuju talang kemudian kembali lagi pada bak penampungan air.

Pengelolaan Nutrisi

Nutrisi merupakan sumber makanan untuk tanaman dalam sistem hidroponik berupa cairan, nutrisi juga penting untuk pertumbuhan selain itu untuk mendapatkan kualitas hasil yang bagus untuk tanaman hidroponik sehingga harus tepat komposisinya. Tanaman membutuhkan 16 unsur hara/nutrisi untuk pertumbuhan yang berasal dari udara, air, pupuk. Unsur-unsur yang paling dasar yaitu, C(Carbon), H(Hydrogen), O(Oxygen), Nutrisi makro akan diserap oleh tanaman dalam jumlah banyak, dan lebih dikenal dengan makanan tumbuhan yaitu N(Nitrogen), P(fosfor), K (Kalium) ketiganya sering digunakan untuk setiap tanaman. Nitrogen berperan sebagai pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif seperti daun, batang, akar dan juga dapat meningkatkan kadar protein dan klorofil pada tanaman, jika suatu tanaman kekurangan nitrogen maka proses pertumbuhan akan lambat dan terlihat daun tanaman yang berwarna kuning, Fosfor berperan sebagai pembentukan bunga,buah dan biji dan juga dapat memperkuat batang, jika kekurangan Fosfor maka memperlambat kematangan biji dan buah, dan Kalium berperan sebagai mendukung proses fotosintesis tanaman serta memperkuat batang dan akan agar tidak mudah roboh atau terserang penyakit, Kekurangan Kalium tanaman rentan terhadap penyakit dan membuat tanaman busuk. Nutrisi Mikro akan diserap oleh tanaman dalam jumlah sedikit yaitu Mg (Magnesium), Ca (Kalsium), S (Sulfur), B (Boron), Cu (Tembaga), Zn (Zinc), Fe (Besi), Mo(Molibdenum), Mn (Mangan), Co(Cobalt). Keberhasilan sistem budaya hidroponik tergantung pada nutrisi yang diberikan agar tidak menyebabkan serapan yang berlebihan.

Kangkung

Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh dengan cepat dan memberikan hasil dalam waktu 25-30 hari sesudah dilakukan penyamain. Tanaman kangkung biasa tumbuh sepanjang tahun bisa ditemukan di dataran tinggi ataupun dataran rendah khusunya kawasan yang berair dengan suhu 20-30°C.

Sistem Sensor ppm

Sistem pengukuran konsentrasi nutrisi dilakukan menggunakan sensor EC (Electrical Conductivity) yang berfungsi sebagai menghitung jumlah larutan nutrisi dan akan dipasang pada bak pencampuran nutrisi. Nutrisi A dan nutrisi B akan dipisah dalam sebuah wadah yang masing-masing akan dikontrol oleh mikrokontroller supaya nutrisi dalam bak terjaga. Jika ketersediaan nutrisi di bak pencampuran terjadi kekurangan nutrisi A atau nutrisi B maka sistem akan berjalan sesuai kekurangan jumlah nutrisi di bak pencampuran. Adapun persamaan 2.1
untuk menghitung jumlah ppm.
Pada ppm, Konsentrasi dinyatakan sebagai jumlah zat terlarut dalam 1.000.000 bagian larutan. Satuan yang dipakai berat per berat dengan satuan berat yang sama misalnya gram per gram atau mg per mg dan seterusnya.

Dilakukan pengamatan selama proses tanam 30 hari.  Pengamatan dilakukan pada keduahidroponik, yaitu hidroponik kontrol ketersediaan nutrisi dan tanpa kontrol nutrisi. Pada hidroponik tanpa kontrol dilakukan monitoring ppm setiap hari dan dilakukan penambahan air dan nutrisi secara manual. Sedangkan untuk hidroponik kontrol dilakukan pengamatan setiap hari juga. Gambar 4.10 dan gambar 4.11 menunjukan perbandingan ppm selama 30 hari.
Adapun hasil pengamatannya ditampilkan pada gambar 4.10, nilai ppm yang terbaca tanpa kontrol menggunakan TDS meter di sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) yang di dapat sekitar lebih dari 1100 dan yang paling besar di 1176 ppm yang dialirkan pada sistem hidroponik karena pemberian nutrisi yang tidak dikontrol ketersediaannya. Sedangkan nilai nutrisi yang dikontrol 1100 ppm cenderung berada di range
mendekati 1100 ppm sesuai dengan yang diharapkan. kedua tanaman pun sama di 1100 ppm dengan perbandingan kontrol nutrisi dan tanpa kontrol nutrisi.

Respon Pertumbuhan Tinggi Batang Kangkung
Pada bagian ini dilihat respon pertumbuhan 16 tanaman kangkung selama 30 hari. Pengambilan data diambil secara manual menggunakan penggaris untuk mengukur ketinggian batang dari mulai penyemaian 10 hari sampai penanaman 30 hari yang ditanam dengan sistem hidroponik NFT.
Dari data Grafik Gambar 4.13 terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi batang yang dikontrol dengan nutrisi 1100 ppm. Pada awal pertumbuhan masih 0 karena masa penyemaian dari benih kangkung. Pada awal pertumbuhan setelah penyemaian rata-rata tinggi batang kangkung yang terkontrol nutrisi yaitu 1,85 cm dan rata-rata pertumbuhan kangkung yang tanpa kontrol nutrisi yaitu 1,80 cm pertumbuhannya mendekati sama karena sebelumnya masih masa penyemaian dengan perlakuan yang sama. Pertumbuhan di akhir kangkung dengan kontrol nutrisi 1100 ppm mempunyai rata-rata tinggi sekitar 53,08, sedangkan pertumbuhan kangkung tanpa kontrol nutrisi rata-rata tinggi batangnya yaitu 41,6 berbeda jauh mempunyai selisih sekitar 11,4, kangkung dengan kontrol nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan kangkung yang tanpa kontrol nutrisi terlihat dari gambar 4.13.

Respon Pertumbuhan Panjang Akar

Pada hasil pertumbuhan panjang akar daun diambil 3 hari sekali menggunakan penggaris untuk mengukur panjang daun. Pengambilan data selama 10 hari penyemaian dan 30 hari masa tanam.

Dari data grafik gambar 4.15 terlihat bahwa rata – rata pertumbuhan panjang akar kangkung yang dikontrol pada 1100 ppm lebih panjang pada awal pertumbuhan yaitu 0,97 cm walaupun tidak berbeda jauh dengan yang tidak dikontrol 0,96 karena masih masa penyemaian kangkung dengan selisih awal pertumbuhan panjang akar kangkung adalah 0,01 cm Pertumbuhan panjang akar kangkung pada akhir pertumbuhan berbeda, rata – rata pertumbuhan akar kangkung dengan control 1100 ppm 24,7 cm dan rata – rata panjang akar kangkung tanpa kontrol adalah 22,9 cm dengan selisih akhir pertumbuhan panjang akar kangkung adalah 1,8 cm. Terlihat pada gambar 4.14 rata – rata pertumbuhan akar kangkung dengan kontrol 1100 ppm lebih panjang dibanding dengan pertumbuhan panjang akar kangkung tanpa kontrol. Akar pada kangkung tanpa kontrol lebih pendek dan ada yang tebal akarnya sehingga air yang mengalir pada sistem hidroponik NFT terhambat dan keluar dari pipa. Kebocoran ini yang menyebabkan air pada bak nutrisi habis dan tanaman bisa kekurangan air.

Respon Pertumbuhan Panjang Daun

Pengukuran panjang daun dilakukan dengan menggunakan penggaris selama masa pertumbuhan dari mulai 10 hari penyemaian dan 30 hari masa tanam di sistem hidroponik NFT.

Dari data Grafik Gambar 4.17 terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan panjang daun yang dikontrol dengan nutrisi 1100 ppm. Pada awal pertumbuhan masih 0 karena masa penyemaian dari benih kangkung. Pada awal pertumbuhan setelah penyemaian rata-rata panjang daun kangkung yang terkontrol nutrisi yaitu 1,68 cm dan rata-rata pertumbuhan panjang daun kangkung yang tanpa kontrol nutrisi yaitu 1,25 cm pertumbuhannya mempunyai selisih 0,43 karena sebelumnya masih masa penyemaian dengan perlakuan yang sama. Pertumbuhan di akhir panjang dau kangkung dengan kontrol nutrisi 1100 ppm mempunyai rata-rata panjang sekitar 17,6, sedangkan pertumbuhan panjang daun kangkung tanpa kontrol nutrisi rata-rata panjang daunnya yaitu 16,1 mempunyai selisih sekitar 1,5, kangkung dengan kontrol nutrisi lebih panjang daunnya dibandingkan dengan kangkung yang tanpa kontrol nutrisi terlihat dari gambar 4.17.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh kesimpuan sebagai berikut:

  1. Sistem Pengairan yang dibangun untuk mendistribusikan larutan nutrisi pada sistem hidroponik NFT tidak terjadi pengendapan nutrisi.
  2. Kontrol nutrisi yang dipilih yaitu 1100 dalam penelitian ini menunjukan nutrisi di 1100 ppm unggul pertumbuhannya dalam segi tinggi batang, panjang akar,panjang daun, dan warna daun.
  3. Hasil dari perbandingan nutrisi tanpa kontrol dan dengan kontrol nutrisi menunjukan bahawa dengan kontrol nutrisi pertumbuhan kangkung pada sistem hidroponik ini berhasil dan bisa memberikan nutrisi secara otomatis dengan berada tidak jauh dari 1100 ppm dan menghasilkan pertumbuhan kangkung
    yang unggul dibandingkan dengan pertumbuhan kangkung yang tanpa kontrol.

 

 

Sumber:

PENGARUH KONTROL NUTRISI PADA PERTUMBUHAN KANGKUNG DENGAN METODE HIDROPONIK NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT)

Siti Nurdianti Sholihat, M.Ramdlan Kirom S.Si.,M.Si, Dr.Eng Indra Wahyudhin Fathonah S.Si.,M.Si

Alat Terapi Kanker Warsito Sukses Diuji pada Tikus


Pekerja menunjukan teknologi Electronic Capacity Cancer Therapy (ECCT) buatan Warsito di CTECH Lab Edwar Technology, Tangerang Selatan, 11 Januari 2016. Alat tersebut mampu mendeteksi penyakit kanker dan diklaim pemerintah lebih canggih dari buatan Israel. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Tangerang – C-Tech Labs mengklaim teknologi terapi kanker berbasis listrik yang dikembangkan Dr Warsito P. Taruno dan tim di PT C-Tech Lab Edwar Teknologi, ECCT atau Electro-Capacitive Cancer Therapy, mampu menghambat laju pertumbuhan sel kanker pada tikus.

Paten ECCT diloloskan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada September 2017 dengan nomor IDP000047826. “Hasil riset terbaru, ECCT mampu menghambat laju pertumbuhan sel kanker pada tikus,” ujar Dr Firman Alamsyah, Kepala Laboratorium Biofisika, C-Tech Labs, melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, 4 Juli 2018.

ECCT pada hewan coba tikus yang diselenggarakan di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, dipublikasikan di Kongres Dunia 50 Tahun European Association of Cancer Research (EACR) yang diselenggarakan di Amsterdam, Belanda, pada 30 Juni-3 Juli 2018.

Klaim ini berdasarkan percobaan yang dilakukan bersama tim mahasiswa dan dosen Fakultas Biologi UGM terhadap 24 ekor tikus yang dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing enam tikus, dua kelompok tikus yang diinduksi dengan tumor dan dua kelompok tikus placebo.

Satu kelompok tikus yang diinduksi tumor dan satu kelompok tikus placebo dilakukan pajanan medan listrik dari ECCT yang didesain dalam bentuk kandang tikus dengan intensitas mencapai 200mVolt/cm pada bagian tengah kandang, dengan frekuensi yang diberikan berkisar 100kHz hingga 300kHz.

Intensitas yang diberikan itu setara atau sedikit lebih rendah di bawah intensitas paparan listrik statis yang keluar dari smartphone pada umumnya. Pemaparan terhadap tikus dilakukan selama 10 jam per hari selama tiga minggu berturut-turut.

Riset yang dilakukan di fasilitas laboratorium milik Fakultas Biologi UGM selama 2017 ini merupakan tindak lanjut dari riset awal terhadap sembilan ekor tikus yang dilakukan di Bimana Indomedical bersama dengan peneliti Bimana dan Pusat Studi Satwa Primata IPB.

Saat ini, riset ECCT juga dilakukan di RS Dr Soetomo Surabaya untuk riset klinis yang dibiayai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Data yang dipublikasikan Firman menunjukkan tingkat penghambatan rata-rata dari pertumbuhan awal 0,121 cm2/hari berkurang menjadi rata-rata 0,01 cm2/hari atau rata-rata mencapai tingkat penghambatan hingga 92 persen secara volume.

Hasil lab darah dan patologi anatomi terhadap jaringan tumor tikus juga menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan pada fungsi ginjal dan liver, ritme jantung, dan jumlah hitungan sel darah pada tikus yang diinduksi tumor serta tikus sehat yang diberi pajanan medan listrik ECCT.

Hasil patologi anatomi jaringan tumor menunjukkan meningkatnya aktivitas sel darah putih (limfosit) dan sel makrofaji lebih dominan pada tikus yang diberi pajanan medan listrik.

Dr Firman mengklaim hal itu menandakan bahwa ECCT mendorong kerja sistem imunitas tubuh menjadi lebih aktif dengan memproduksi sel darah putih dan sel makrofaji lebih banyak untuk memakan dan menyerap sel-sel kanker yang sudah mati.

“Proses kematian sel kanker seperti ini bisa terjadi karena ECCT bekerja selaras dengan aktivitas sistem imunitas tubuh pada tikus, sehingga kematian yang terjadi berlangsung secara alamiah,” tuturnya.

Menurut Dr Warsito, frekuensi alat ECCT dirancang untuk menghasilkan medan listrik agar terjadi interaksi melalui mekanisme polarisasi listrik statis pada tingkat mikrotubula pada inti sel untuk mempengaruhi distribusi medan listrik pada tingkat molekuler inti sel kanker sehingga bisa mengacaukan pembelahan sel dan mendorong sel kanker melakukan self-destruction (bunuh diri).

Hasil penelitian pada tikus di UGM menunjukkan proses kematian sel kanker yang berbeda-beda, yang secara umum dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, proses lysis (luruh) yang ditandai dengan nodul tumor yang berangsur-angsur mengecil hingga hilang.

Kedua, proses detachment (lepas) yang ditandai dengan proses nodul tumor yang berangsur-angsur menghitam, mengering, dan lepas dari posisinya, meninggalkan luka terbuka yang kemudian berangsur-angsur mengering dan menutup dengan sendirinya.

Terakhir, proses kistik, yang ditandai dengan nodul padat yang berubah menjadi kista cair (nekrosis) dengan volume yang cenderung membesar tapi melunak/mencair.

Warsito menjelaskan, medan listrik yang dihasilkan alat ECCT berinteraksi dengan listrik statis yang mengalami polarisasi cukup tinggi pada molekul mikrotubula di dalam sel kanker yang sedang membelah.

Mikrotubula adalah benang-benang serabut, yang disebut spindle, yang bekerja sangat intens selama proses pembelahan sel untuk memisahkan kromosom yang telah mengalami duplikasi menuju ke kedua kutub sel untuk membentuk dua inti sel yang identik.

Mikrotubula adalah struktur makromolekul yang disusun oleh gabungan senyawa yang lebih kecil, yang disebut tubulin dimer, yang tersambung satu dengan yang lainnya secara ikatan listrik statis. Akibatnya, secara kimiawi, strukturnya relatif stabil, tapi secara fisika mudah rusak oleh pengaruh medan listrik dari luar.

“Medan listrik yang dibangkitkan oleh alat ECCT menghasilkan gaya momen listrik yang bekerja sebagai electric-scissors (gunting listrik) yang menimbulkan electric-shear force (gaya geser) yang memutus ikatan listrik statis pada struktur molekul mikrotubula pada saat sel sedang membelah,” kata Warsito.

“Pada saat sel sedang diam atau tidak sedang membelah, mikrotubula tidak dalam posisi yang ‘terentang’ sehingga tidak mudah diputus oleh ‘gunting listrik’ dari alat ECCT. Karena itu, ECCT hanya bekerja pada saat sel sedang mengalami pembelahan,” ucap Warsito.

“Pembelahan sel bisa terjadi baik pada sel kanker maupun sel sehat, tapi pembelahan sel kanker terjadi lebih massif sehingga efek destruktif terhadap sel kanker lebih besar,” tuturnya.

Warsito juga menambahkan bahwa gaya momen listrik yang bekerja sebagai “gunting listrik”, selain dipengaruhi tingkat polaritas sel kanker yang berbeda berdasarkan jenis sel, dipengaruhi oleh sifat dielektrika jaringan sekitar sel kanker.

Kekuatan gaya momen listrik ini, yang dipengaruhi oleh jenis sel kanker dan jaringan sekitar tempat sel kanker berada, kemungkinan yang menentukan proses bagaimana sel kanker mati, atau bisa juga tidak cukup bisa mati apabila gaya momen listrik ini tidak cukup kuat.

“Hasil riset tikus yang menunjukkan bahwa ECCT bekerja selaras dengan sistem imunitas tubuh membuka potensi pengembangan terapi baru terhadap kanker dengan menggabungkan ECCT dengan metode immunotherapy,” kata Warsito.

Terapi imunitas mulai populer beberapa tahun terakhir setelah mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, meluncurkan National Cancer Moonshot pada 2016 dengan metode terapi imunitas sebagai pilar utamanya.

PT C-Tech Labs pada beberapa tahun yang lalu juga giat membangun kerja sama pengembangan metode terapi ECCT digabungkan dengan terapi imunitas dengan dokter peneliti klinis di beberapa negara, antara lain Polandia, Jepang, dan Jerman.

sumber: Tekno Tempo.co.

%d blogger menyukai ini: