Posts from the ‘Memori’ Category

Melamar Kerja (3)…


Sekarang waktunya pengumuman hasil seleksi CPNS. Entah kenapa, teman saya bercerita, waktu malam pengumuman yang bertepatan dengan malam tanggal 31 Desember, dia merasakan suatu bayangan yang begitu jelas. Bayangan kebimbangan jikalau dia diterima sebagai CPNS. Kenapa bimbang? Karena dia tidak ada motivasi untuk pingin diterima, dia merasa masih ada tanggun jawab job yang belum selesai ditempatnya bekerja. Dia tidak bisa meninggalkan suatu tanggung jawab yang telah diberikan. Dia ingin menjadi orang yang dapat dipercaya orang lain.

Dan pada keesokan harinya, karena waktu malamnya sering begadang lembur kerja, dia masih melanjutkan tidurnya setelah sholat subuh di kantornya. Ditambah lagi mimpinya yang membayangi semalaman. Dia dikejutkan dengan sebuah panggilan telepon dari sebuah nomor yang tidak asing lagi.

kring…..kring…. kira-kira begitulah bunyinya jika tulis. Dia seketika terbangun, dengan mata yang masih sayup-sayup dia mengankat telepon dan menyapa penelpon. Dan betul pula apa yang telah membayangi sejak malam. Kabar yang disampaikan temannya itu adalah pengumuman hasil kalau dia diterima sebagai CPNS, tak tanggung-tanggung dia para urutan pertama dari peserta yang lolos. Itu artinya dia mendapat nilai paling tinggi pada selesai itu untuk wilayah yang diikutinya. Seketika itu dia menjadi galau, hatinya risau, bingung bercampur aduk. Dalam hatinya, kenapa dia diterima? kenapa tidak ditolak saja?

Tidak cuma pikirannya yang kacau dan bingung, badannya menjadi panas sampai sore hari. Pada malam hari itu, kebetulan teman-teman sekantornya jalan-jalan bareng ke biasa banyak orang ngumpul. Sepanjang jalan, mungkin hanya dia yang merasakan gelisah sementara yang lain merasakan suka cita.

Waktu terus berlalu, selama itu pula dia bertanya kesana kemari, apa yang dia harus lakukan? Mana yang harus dia pilih? Satu karena idealisme dan satunya karena masa depan bagi sebagian besar orang. Tidak lupa lupa dia minta pertimbangan keluarganya dengan beserta pertimbangan. Sampai akhirnya, hari yang ditentukan, untuk semua peserta seleksi yang dinyatakan lolos wajib hadir untuk pendataan. Dia mengambil keputusan untuk tidak mengambil posisi CPNS dengan segala pertimbangan dan resikonya. Sampai sekitar jam 08.00 yang menjadi waktu akhir bagi presensi peserta. Seperti biasa, dia masih tidur sehabis lembur kerja. Kembali sebuah telepon yang kali ini asing baginya masuk. kring….kring…., dengan cekatat dia mengangkat panggilan telepon tersebut.

Ya, hallo… perbincangan berlangsung singkat. Penelepon, hanya meminta konfirmasi saya, apakah dia tidak datang ke BKD untuk mengurus kelengkapan data? Jika tidak hadir, maka dia dinyatakan gugur. Dengan berat dan pilihan berat, dia mengatakan bahwa dia tidak mengambil posisi tersebut karena masih memiliki tanggung jawab yang harus dia selesaikan ditempatnya bekerja. Ah… selesai sudah pergulatan batin ini. Lega dan tidak ada kekacauan yang berkecamun dihatinya.

Dan kebetulan, pada periode tersebut, bagi CPNS yang mengundurkan diri tidak mendapatkan denda 10 jt seperti tahun sesudahnya.

Suatu pilihan yang harus ditentukan dan tentunya berat, karena sama-sama memiliki konsekuensi yang berat pula. Dia telah berhasil menentukan pilihan yang dia sendiri tidak tahu, yang mana yang paling baik bagi dirinya.

Sekian…

Tulisan terkait:

Melamar Kerja (2)…

Melamar Kerja (2)…


Cerita berlanjut, dengan langkah pasti dia akhirnya, mengikuti ajakan teman akrabnya untuk mengikuti seleksi administrasi CPNS. Belum selesai cerita, sampai di kantor pos, dia tidak bisa mengirimkan berkasnya karena dia tidak bisa mendapatkan perangko flat untuk amplop balasan yang wajib bagi peserta CPNS. Dia sudah nanya ke loket A sampai Z, tapi semua tidak bisa memberikan perangko. Kalo ingin mendapatkan perangko, dia harus membeli satu berkas utuh pendaftaran CPNS. Dengan hati sedikit jengkel, dia mengirimkan berkas itu ke temannya yang ada di daerah tujuan. Dia minta tolong, temannya untuk membelikan perangko flat kemudian dimasukkan berkasnya. Selesai sudah, tahap awal.

Beberapa hari berselang, tiba saat seleksi CPNS, dia akhirnya dinyatakan lolos seleksi administrasi. Dia dan temannya, pulang kampung untuk mengikuti seleksi CPNS, dan kebetulan saat itu, bertepatan waktunya dengan hari raya ‘idul Adha. Jadi bisa mudik, dengan cuti dari tempatnya bekerja. Sebenarnya dia tidak sreg, karena saat itu, dia belum ingin resign jika diterima sebagai CPNS.

Dia pulang, dengan niat ingin berhari raya, bukan mengikuti seleksi CPNS, tapi dia ikut seleksi CPNS dengan niat untuk sekedar mengikuti ajakan temannya tadi. Sejak awal, dia tidak melakukan persiapan sama sekali, lain dengan temannya yang satu, setiap balik kerja dia selalu membaca kumpulan tes CPNS tahun-tahun sebelumnya. Namun dua cuek, dan tidak mempedulikannya. Bahkan malam hari sebelum hari seleksipun, dia kebetulan kadatangan temannya lamanya, yang akhirnya temannya memberikan kumpulan soal tes tahun yang lalu.

Dia baca-baca sambil lalu, beda dengan orang layaknya yang benar-benar kepingin banget diterima. Bahkan dia hanya membaca sebagian soal saja, tidak sampai selesai. Karena baru sampai dari perjalanan jauh, dia kecapekan dan melanjutkan dengan tidur. Paginya dia berangkat ketempat seleksi, yang kebetulan satu jalur dengan dia pulang kampung. Bahkan tempat seleksipun dia dikasih tahu temannya yang lain, dia tidak tahu di sebelah mana persisnya. Dengan membawa tas besar berisi pakaian layaknya orang mudik, dia menuju tempat seleksi. Sampai ditempat,  dia termasuk yang pertama datang, dia kemudian mencari ruang dan menunggu sambil beristirahat di depan ruang yang masih terkunci. Kalau kandidat yang lain datang, dengan rapi, membawa tas kecil, membawa lembar soal-jawab tahun lalu, dia hanya duduk dan sekali-kali sambil menutup mata karena masih ngantuk. Beberapa teman semasa kuliah dulu, mendekatinya dan sedikit ngobrol.

Tes kemudian dimulai, kebetulan saja dia duduk di bagian paling depan, kanan dan kiri orang yang tidak dikenal. Dengan tenang dan yakin dia mengerjakan soal tes. Dari beberapa soal yang keluar, dia dapat mengingat, soal yang mirip dengan soal yang dibaca tadi malam. Dan anehnya, soal kali ini berbeda dengan soal seleksi tahun-tahun sebelumnya. Soal didominasi soal kepribadian, bukan soal pengetahuan. Mungkin dari soal 100, yang 40 adalah soal tes kepribadian. Soalnya mirip dengan soal PMP atau PPKn. Dengan pasti dia menjawab satu persatu soal, yang sulit dia tinggalkan untuk diulang kemudian. Dia menjawab soal kepribadian sesuai dengan hati nuraninya bukan mencari jawaban yang paling baik. Mungkin saat mengerjakan soal PPKn kita akan menjawan soal yang paling baik. Berbeda dengan soal PPKn, dia tidak menjawab soal dengan memilih jawaban paling ideal, tapi dia menjawab soal sesuai karakter kepribadian. Dia menjawab soal situasi kondisi dengan apa yang akan dilakukan seandainya dia mengalaminya.

Tes sudah selesai, dia pulang dengan membawa tas besar yang dibawanya dari kota nan jauh di sana. Dia ingin segera pulang, ketemu dengan keluarga di rumah. Hari berikutnya adalah hari ‘Idul Adha, dia dan orang kampungnya pergi sholat ke lapangan, untuk menunaikan sholat ‘Ied. Sepulang dari lapangan, beberapa tetangganya menanyakan, dia ikut seleksi CPNS atau tidak? Maklum, siapa sih yang tidak tahu tentang CPNS? ya dia jawab saja, “ikut”, tapi bukan di kabupaten kampung halamannya.

Sebenarnya, walaupun tanpa keinginan yang kuat, dia memiliki strategi ikut CPNS. Dia menganalisa seberapa besar peluang di masing-masing daerah yang menyelenggarakannya. Dia mencari formasi dengan perbandingan kemungkinan pelamar yang ada. Dia memprediksi berapa kira-kira pelamar yang ada, dengan cara berapa banyak temannya kelas waktu kuliah dulu ada ditempat tersebut. Kemudian membagi jumlah formasi dengan jumlah teman sekelasnya yg ada pada daerah tersebut. Dan sebelumnya, dia juga menanyakan ke teman-temanya, ikut didaerah mana. Ketemulah angka dengan peluang yang terbesar dibandingkan daerah-daerah lain.

Berlanjut….

***

Tulisan terkait:

Melamar Kerja (1)…

Melamar Kerja (1)…


Bagi sebagian orang, yang namanya ‘melamar kerja’ atau mencari kerja itu adalah suatu hal yang membutuhkan suatu keuletan dan kesabaran yang tinggi.

Kenapa demikian?

Sebagian orang pastinya akan dan pernah mengalami situasi ini. Mungkin hanya segelintir orang yang ‘beruntung’ saja yang tidak mengalaminya. Ya, mungkin ada yang sudah ditunggu pekerjaan karena prestasinya, mungkin ada yang sudah ditunggu pekerjaan karena warisan, ataupun situasi yang lain.

Nah, bagi kita yang ‘kurang beruntung’, mestinya harus menyiapkan 1001 cara dan strategi untuk mendapatkan pekerjaan, disamping harus ditunjang dengan do’a yang wajib hukumnya, apalagi do’a orang tua kita.

Saya akan mencoba sedikit menceritakan apa yang dialami teman saya, dan apa yang ada silakan mengambil hikmah dan pelajaran sendiri jika memang dirasa ada. Karena mungkin setiap orang bisa berbeda persepsi dan penilaian.

Begini lho….

Saya punya teman, dia itu udah lulus kuliah sekitar tahun 2006. Awalnya dia tidak berfikir untuk mencari kerja pada orang lain, maklum aj karena saat itu dia memiliki usaha kecil-kecilan yang mampu menopang hidupnya selama masa pertengahan kuliah sampai lulus. Walaupun mungkin tidak cukup besar untuk bisa menabung dan memberi sedikit kepada orang tuanya. Apalagi, dari keluarganya tidak ada yang namanya kerja dengan orang lain. Pinginnya sih mandiri, wiraswasta…

Nah, cerita berlanjut setelah beberapa waktu. Dia akhirnya merasa risih juga, setiap pulang kampung ditanya sama keluarga, tetangga atau temannya. Pertanyaannya sederhana, namun mungkin jawabannya yang menyusahkan seorang lulusan Sarjana sekalipun.

Kamu kerja dimana? Sebagai apa?

Sederhana bukan? Kalau dilihat dari susunan kalimat memang sederhana, kalimat tersebut dinamakan kalimat tanya yang terdiri dari SPO. Waduh, kok sampai mbawa-mbawa pelajaran Bahasa Indonesia sih…. hehehe nggak apa-apa, karena katanya kalimat tanya ini sederhana, namun bisa menyesakkan orang banyak. Jadi saya harap Anda berhati-hati dengan kalimat ini ya…

Akhirnya teman saya befikir, saya sudah kerja, walaupun mungkin tidak seperti bayangan kebanyakan orang, saya sudah bisa makan dari hasil keringat saya sendiri, tapi kenapa begitu berat untuk menjawab pertanyaan itu?

Maklum aj, sudah menjadi mafhum bagi orang di pedesaan kalau seorang akan dipandang berhasil jika bisa bekerja di sebuah institusi atau perusahaan yang dikenal oleh orang. Dan sebaliknya, akan memudahkan bagi orang yang bersangkutan untuk menjawabnya dengan wajah yang terangkat tidak menunduk.

Akhirnya teman saya mencoba mencari lowongan kerja yang barangkali saja bisa di apply. Setiap makan di warung, dia lebih lama membolak-balik koran dari pada makannya. Dan singkat kata, suatu saat dia menemukan lowongan kerja sebagai Guru Komputer di sebuah SMK Swasta. Dengan langkah pasti akhirnya dia mengajukan lamaran, dan diterima sebagai pengajar di SMK tersebut. Mungkin keputusan ini jarang dan tidak semua orang melakukannya, kenapa? Dia harus berangkat mengajar 3x dalam seminggu, dan dalam sehari datang, dia minimal harus mengajar selama 6 jam pelajaran. Jika dihitung mungkin dia akan mendapatkan honor yang cukup, tapi tidak demikian, dia hanya mendapatkan honor sekitar 98 ribu untuk satu bulan. Bayangkan, dia harus berangkat dari tempat tinggalnya naik angkutan, sekali pulang pergi membutuhkan ongkos sebesar 12 ribu. Jadi total untuk ongkos angkutan saja, dia mengeluarkan minimal 150 ribu. Artinya dia tidak bekerja untuk mencari uang tapi dia kerja bakti.

Yah, gimana lagi, kontrak sudah tidak dibatalkan, kalo mau membatalkan dia harus mencarikan ganti, mana ada gantinya yg mau?? Terpaksalah dia membayar mahal untuk sebuah status sebagai jawaban kepada orang lain. Susah memang….

Sambil berusaha mencari peruntungan lain, dia beberapa kali mencoba ikut tes CPNS. Pertama, dia ikut di daerahnya, namun karena didaerahnya tersebut sarat dengan KKN, maka dia tidak lolos seleksi administrasi. Kemudian, tahun berikutnya, dia ikut tes CPNS di institusi lain, pada kali ini dia agak beruntung, karena dari tes tahap pertama, dia termasuk 3 orang yang lolos dan mengikuti seleksi tahap 2. Namun lagi-lagi karena sarat dengan KKN, dia akhirnya harus mengelus dada. Pada tahun ketiga, dia mencoba ikut lagi, dan mungkin ini kali yang perlu diwaspadai…

Wah kok diwaspadai segala sih??

iya, karena dia ikut seleksi CPNS, karena tidak ada sedikitpun niat untuk ikut apalagi diterima. Dia sebenarya sudah diterima pada sebuah perusahaan swasta, dan kebetulan saat itu teman akrabnya mungkin ingin mencoba ikut CPNS. Temannya tersebut mengajak dia untuk mengikuti tes CPNS. Ya namanya teman akrab, kerja sekantor, tinggal serumah, tidur sekamar, kemana-mana selalu berdua. Dia terpaksa mengikuti keinginan temannya itu. Pertama-tama dia membaca syarat ketentuan CPNS saja dia sudah salah. Gimana tidak, biasanya kan tes CPNS itu, disebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi, mungkin point 1-14, dan baru membaca syart sampai poin 10 saja dia sudah bingung. Dia harus mengurus macam-macam surat keterangan, padahal dia sekarang bekerja di perusahaan. Tidak mungkin baginya meninggalkan jam kerja hanya untuk mengurus surat-surat tersebut. Dia memutuskan untuk tidak ikut seleksi. Namun, entah kenapa, saat tanggal akhir, kurang 4 hari, dia ada keinginan untuk membaca ketentuan lagi, nah…. disini dia baru tahu, kalau dia kurang teliti membacanya. Ternyata, syarat poin sekian sampai terakhir, dipenuhi jika seseorang dinyatakan diterima. Dengan demikian dia memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi administrasi.

Berlanjut….

Melamar Kerja (2)…

Manisnya Dunia Pendidikan Kita…


Mengajar adalah sebuah profesi yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah memiliki kualifikasi yang ditetapkan. Jika suatu pekerjaan itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi tertentu yang ditetapkan, maka itulah yang disebut profesi.

Sama halnya dengan dokter, pengacara, dan sejenisnya. Maka pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang tanpa kualifikasi yang ditetapkan. Berbeda dengan pekerjaan penyapu jalan, kuli panggul di pasar, ataupun yang sejenisnya.

Pendidikan bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk bekal dalam kehidupannya. Jika kita pada waktu SD mungkin masih ingat dengan istilah “Belajar Mengajar”, kemudian pernah kita dengar juga istilah “Kegiatan Belajar Mengajar”, adalagi “Proses Belajar Mengajar” dan mungkin ada “Pembejalaran”. Apapun itu istilahnya, namun intinya adalah proses memberikan pengalaman kepada peserta didik sebagai bekal dalam kehidupan peserta didik di masyarakat.

****

Sebuah fenomena yang mungkin tidak asing lagi adalah…

Banyak lulusan yang ketika kuliah menggambil peminatan bidang ilmu murni, namun ketika lulus atau beberapa saat setelah bekerja ditempat lain, lulusan tersebut banting setir mengajar. Diantaranya bahkan diangkat menjadi PNS. Di sisi lain, ketika kuliah, mengambil ilmu pendidikan, namun ketika lulus, tidak mengajar sesuai kompetensi yang dipelajari. Tidak jarang juga, mahasiswa yang mengambil peminatan bidang pendidikan pada awalnya, bahkan mungkin sampai lulus tidak memiliki ‘keinginan’ untuk menjadi guru setelah lulus.

Pada situasi lain, ketika perekrutan CPNS mulai tahun 2009, ketika bidang Infomation and Technolgy berkembang dengan pesat, banyak dibuka CPNS dengan kualifikasi pengajar ilmu komputer ataupun teknik komputer. Bersamaan dengan itu, bahkan sampai saat perekrutan CPNS digelar, di perguruan tinggi PTIK belum dibuka program Pendidikan Teknik Informasi ataupun Pendididikan Teknik Komputer. Kalaupun ada, mungkin baru satu ataupun dua perguruan tinggi saja.

Dengan keadaan ini, semakin banyak sekali lulusan ilmu murni yang kemudian mengambil program Akta IV untuk bisa memenuhi syarat kualifikasi yang diinginkan.

Yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah: Bagaimana ini bisa terjadi?

Apakah tidak ada koordinasi dan perencanaan pada dunia pendidikan di Indonesia yang bisa menghindari seperti ini?

Saya juga tidak tahu, apakah ini menjadi salah satu faktor yang akhirnya melahirkan dua macam guru?

Ah….. ini bukan urusan saya….

Ah…. ini bukan domain saya….

Ah… Ah… apa yang terjadi??

Bagaimana ini???

Sebegitu anehkah managemen pendidikan kita?

****

Belum lagi fenomena yang aneh dan mengelikan lainnya…

Ketika saya pulang kampung, sekitar sebelum tahun 2009. Saya banyak mendengar cerita yang menurut saya aneh, ya aneh. Anda mungkin akan sangat ingat ketika itu ada kabar bahwa semua pengawai honorer/wiyata bakti akan diangkat sebagai PNS sebelum tahun 2009. Begitu kuatnya kabar ini, hingga di desa-desa terjadilah fenomena ini.

Banyak oknum pegawai negeri di sekolah negeri, berlomba-lomba memasukkan kerabatnya sebagai pegawai honorer atau wiyati bakti. Bahkan lulusan SMA aj banyak yang dimasukkan sebagai guru di SD. Padahal, mereka mungkin cuma mendapat honorer kurang dari 2oorb per bulan selama belum diangkat sebagai CPNS. Sampai sekarang, saya tidak tahu apakah mereka semua benar-benar diangkat sebagai CPNS ataukah tidak?

Dari contoh di atas saja, bisa diketahui, begitu kuatnya magnet di dunia pendidikan, sampai-sampai orang yang awalnya tidak tertarik, menjadi sangat terpikat.

Mudah-mudahan manisnya di dunia pendidikan membuahkan hasil yang manis bagi bangsa dan negara.

“Ngotot” itu perlu…


Hahahaha…

Apa yang Anda bayangkan dengan sebuah kata “Ngotot”?

Saya percaya, Anda mungkin terbayang dengan kondisi orang yang sedang adu argument tentang suatu hal yang tidak begitu jelas benar ato salahnya, mungkin ibarat membicarakan duluan mana antara telur dan ayam.

Mungkin juga diantara Anda ada yang membayangkan “Ngotot” itu sifat orang yang tidak mau kalah saat berdebat dengan orang lain, walaupun pendapatnya itu salah. Susah memang kalo mengadapi orang kayak gini.

Tapi yang saya maksud dengan “Ngotot” disini adalah sebuah perjuangan yang saya lakukan manakala saya mencoba menjelaskan alas an yang saya pegang dalam “melawan” sebuah sikap orang lain dalam mengeluarkan keputusannya. Bingung??? Hehehehe, jangan bingung dong…

Okelah kalo begitu, saya gambaran dengan apa yang saya maksud dengan “Ngotot”.

Gini lho…

Saya itu teringat dengan beberapa hal yang saya alami saat saya mencoba untuk “Ngotot”. Dan saya merasa melakukannya untuk menghadapi situasi aneh tersebut.

Pertama, kejadian ini terjadi saat saya masih kuliah semester 7, klo tidak salah ya soalnya dah agak lupa.

Waktu itu, saya udah dua kali/dua semester ikut kuliah Teknik Digital. Yang pertama saya ikuti pada semester 5, dan hasilnya adalah mendapat nilai C. Karena saya merasa dengan nilai C itu adalah kurang bagi saya yang begitu sangat menyukai dunia 0 dan 1 (digital). Maka akhirnya pada semester 7, saya putuskan untuk mengulangi kuliah Teknik Digital. Dan kalo tidak salah, pada waktu itu, teman-teman saya satu kelas banyak juga yang mengulang, sehingga diadakan kelas tersendiri.

Setelah masa perkuliahan dimulai, saya merasakan sesuatu yang tidak beres nih. Karena pada awal masa kuliah ini, udah 2-3 kali jam kuliah, si dosen selalu terlambat bisa 1 jam. Itupun harus di ‘jemput’ di ruangannya. Karena saya pada waktu itu sebagai Komting/ketua kelas, dan saya bertanggung jawab atas perkuliahan di kelas, maka setiap jam kuliah dimulai, harus rajin ‘menjemput’ sang dosen.

Tahu gak??

Yang saya bikin jengkel itu, saat ditunggu mahasiswa yang siap kuliah, eh dia nya malah main game di ruangan. Mending game nya keren, game yang dimainin itu game anak kecil, yang nyari 2 gambar yg sama sampai abis itu lho… Rasa ubun-ubun ini udah kaya sumbu pabrik aj, dah gak mempan disiram air. Kadang klo tidak main game, si dosen malah tidur, gmn coba?

Dalam hati saya, orang gini kok bisa ya jadi dosen? Gmn dulu seleksinya?

Kuliah udah lewat, saya aktif ikut kuliah, ujian tengah semester, ujian akhir semester dan homework. Sekarang saatnya melihat hasilnya…

Saat melihat hasilnya, serasa kepala ini disambar petir, tahu kenapa? Nilai saya tidak keluar bersama dengan beberapa teman. Akhirnya dengan rasa yang bercampur aduk macem-macem, saya dan teman menemui sang dosen. Setelah ngomong-ngomong masalah sebab nilai tidak keluar, akhirnya saya diberi tahu kenapa nilai saya tidak keluar.

Dengan enteng, sang dosen bilang, kamu tidak ikut ujian akhir semester, lembar jawab kamu tidak ada. Wah ini yang bikin ngondok, masa dibilang gitu, padahal saya waktu itu ingat betul kalao saya ikut ujian akhir semester dan saya duduk di depan sang dosen yang tidur saat menunggui ujian. Kemudian saya Tanya ke beliau, Pak, klo boleh lihat saya minta ditunjukin daftar hadir saat ujian, karena saat itu saya ingat betul klo saya ikut ujian dan duduk didepan bapak. Dengan enteng sang dosen bilang, berkas ujian sudah tidak ada semua. sudah dibuang kali…

Yah, apa-apaan nih dosen satu ini, gerutu saya dalam hati.

 Ya udah kalao gitu, apa yang harus saya lakukan biar nilai saya keluar pak?.  Tanya saya dengan rasa harap.

Kamu dan beberapa teman kamu, cariin buku terbaru tentang Teknik Digital, nanti disrahin saya. Jawab sang dosen.

Wah ini apa-apaan ini? Dalam hati saya. Kemudian saya jawab: Pak, masa nilai saya ditukar dengan beli buku?, saya tidak mau pak? Saya minta tugas yang relevan saja. Jawab saya. Kemudian saya lanjutkan: ya misalnya bikin resume materi ato makalah gitu…

Setelah lama nego, akhirnya sang dosen setuju dengan permintaan saya untuk diganti dengan resume materi kuliah.

Setelah menyelesaikan tugas, keluarlah nilai saya. Saya tidak tahu, bagaimana proses nilai diolah sehingga bisa keluar. Tapi Alhamdulillah saya dapat nilai yang lebih baik dari semester sebelumnya untuk mata kuliah Teknik Digital.

***

Saya tidak habis pikir, apakah seorang pendidik yang demikian itu tidak memiliki rasa tanggung jawab ataupun panggilan hati untuk mengajar? Begitu mudahkah memberikan penugasan dengan sesuatu yang kurang relevan? Apakah tidak difikirkan sebelumnya, apa tujuan penugasan tersebut? Kenapa saya sebut demikian? Ya karena profesinya adalah pengajar… bukan yang lain.

Sebagai orang awam, saya merasa prihatin jika masih ada pengajar yang masih memberikan tugas yang kurang relevan.

Mungkin ada sebuah artikel yang menarik untuk disimak khususnya bagi pengajar. Link ini saya dapatkan atas kebaikan seorang teman yang peduli tentang dunia pendidikan.

Dua Jenis Guru

Semoga bermanfaat.

Pak Guruku yang “Slalu” Aku Tunggu


Mungkin kita semua pernah yang namanya “menunggu” dan “membenci” kehadiran seorang guru dalam ruang kelas kita.

ya, itu sudah menjadi rahasia umum jika seorang guru, pastinya akan senantiasa “ditunggu” atau “dihindari” kehadirannya dalam ruang kelas, saat kita masih sekolah.

 

Tidak banyak memang, seorang pengajar bisa menjadi yang “slalu” ditunggu. Mungkin perbandingan 1:100 dari pengajar yang ada. Baik itu dari faktor cara mengajar dan “ubo rampe” yang melekat pada seorang guru, ataupun dari rasa mood dari peserta didik sendiri.

Jika kita pernah belajar tentang ilmu pendidikan, seorang pendidik, pastinya pernah dan wajib mempelajari bagaimana menghadirkan suasana yang membangkitkan suasan belajar yang penuh semangat, jauh dari suasana membosankan yang pada ujung-ujungnya ya, tujuan penyampaian materi itu sendiri bisa diterima ataukah tidak.

Bagaimanakah kita sebagai seorang guru, untuk bisa menghadirkan suasan yang menyenangkan itu?

ya, ini mungkin menjadi pertanyaan besar yang tidak bisa dirumuskan secara pasti laksana dalam matematika 1+1 = 2.

Kenapa demikian, karena suasana menyenangkan yang bisa dihadirkan itu bisa bermacam-macam cara dan berbeda keadaannya. Sebenarnya yang paling tahu adalah pengajar tersebut.

Mungkin kita pernah melihat tanyakan dari acara Talk Show, dari sebuah stasiun swasta?

ya, disana pernah dihadirkan beberapa guru yang dianggap bisa menghadirkan suasana tersebut. Mungkin bagi kita yang cenderung apa adanya, bagaimana biasanya dalam mengajar, cara mereka mungkin dianggap nyleneh.

hahaha…. ini mungkin justru anggapan yang nyleneh. kenapa demikian? karena harusnya seorang pengajar emang nyleneh, dia harus berfikir diluar konteks belajar mengajar itu. Bagaimanakah saya bisa menghadirkan suasana yang beda dari biasanya?

ya, karena kita pastinya akan selaku terpaku dan selalu mengamati dengan apa yang namanya penampilan baru, cara baru dari yang umumnya. Begitu pula, peserta didik akan mengamati dengan apa yang kita sampaikan, karena berbeda dari biasanya/umumnya.

kemudian, kalo sudah bosan, maka peserta didik pastinya juga akan kembali lagi kepada rasa “terbiasa” dengan suasana.

 

Kemudian bagaimanakah kita dalam mengajar?

ada baiknya kita kembali mengingat sewaktu kita sekolah, apakah kita pernah “slalu” menunggu “penampilan” seoarang guru kita? pastinya paling tidak satu guru telah menyita perhatian sewaktu sekolah. dari sini, kita bisa berfikir, kenapa kita bisa tertarik dengan cara mengajar, atau apapun yang dilakukan guru kita?

Mungkin ada guru yang mengajar dengan memberikan show di awal tatap muka dengan suatu kejadian sehari-hari yang jarang diperhatikan.

Ada juga guru yang, selalu memberi nilai tambahan setiap akhir materi yang disampaikan. Jika seorang murid, bisa mendapatkan nilai tambahan sekian kali, akan dapat nilai tambahan di raportnya.

Ada juga yang dengan imajinasinya menghadirkan suasana ruang angkasa dalam ruangan gelap kelas yang telah disulap, walaupun dengan kemampuan terbatas dan fasilitas terbatas, tapi ini sudah merupakan menghadirkan suasana yang berbeda.

Kemudian bagaimana dengan kita? sudahkah kita “slalu” ditunggu?

Silakan menilai cara mengajar diri kita, sebelum peserta didik kita menilai kita. Dan akhirnya, tidak lebih dari dua pilihan, yaitu menjadi guru yang “slalu” ditunggu atau guru yang “slalu” dihindari?

 

* Pengalaman penulis saat mengajar.

Perekrutan CPNS


Mungkin kebanyakan orang akan beranggapan kalau untuk menjadi CPNS “murni” yang tanpa mengeluarkan uang sebagai pelicin, sangat kecil kemungkinan, bahkan mungkin sudah ada yang pesimistis. Namun sebenarnya, tidaklah demikian. Mungkin hanya daera-daerah tertentu atau alokasi-alokasi tertentu yang sarat dengan hal demikian. Kita tidak tahu, apakah ini permainan pejabat, panitia atau stake holder yang sudah dipercaya menanganinya.
Menurut pengalaman beberapa teman, ada posisi-posisi yang tidak dipungut uang sepeserpun untuk didaulat menjadi seorang abdi negara, PNS yang diharapkan mengemban tugas negara yang mulia. Namun ada pula perekrutan yang terkesan setengah-setengah. Kenapa disebut demikian, karena meknismenya adalah ada tes tertulis yang kemudian diseleksi secara nasional, dan hasilnya diseleksi oleh pusat. Kemudian kandidat-kanditat yang lolos diserahkan kepada unit yang membutuhkan formasi tersebut. Disini terjadi proses seleksi lagi, dimana ada penilaian yang dilaksanakkan oleh panitia yang terdiri dari pegawai-pegawai unit tersebut. Kita tidak tahu, dan tidak sepantasnya berburuk sangka kepada proses seleksi tersebut, namun dari proses seleksi yang diikuti kadang membuat hati bertanya “kok seleksinya gini ya?”, “kok seleksinya ndak masuk akal ya?”
Dan ternyata, hasilnya sudah ditebak, kalo si kandidat yang tidak punya bargaining position, yang hanya mengandalkan kemampuan dan optimisme ditambah niat yang mungkin tulus, harus sedikit kecewa. Kenapa demikian?? proses yang dari awalnya mulus, dan fair, tiba-tiba jadi remang-remang saat dilanjutkan pada wilayah abu-abu.
Namun kita juga tidak bisa menuduh, karena proses didesain untuk tidak bisa diukur secara pasti. Semisal, wawancara, tes praktik yang tak dilketahui skor tiap kandidat, kecurangan sebagian kandidat, dan sejenisnya.

Lalu, bagaimanakah sebuah proses perekrutan calon Abdi negara yang demikian???
Sebuah fakta, masih membanjirnya peserta CPNS yang masih optimis sambil mengharap keberuntungan nasib, masih semangat ’45 untuk mengikuti proses seleksi calon abdi negara tersebut.

Mudah-mudahan mereka yang optimis dan punya niat baik dengan cara-cara yang baik tetap diberikan keteguhan hati untuk mengikutinya….
Berjuanglah kawan-kawan yang masih berharap menjadi abdi negara. Tapi juga jangan kecewa kalau Anda tidak diterima, karena yang Kuasa akan memberikan yang terbaik untuk Anda. Jangan berburuk sangka kepada yang Maha Kuasa, karena itu akan menghilangkan sikap optimisme dan pandangan kedepan Anda. Tetap semangat untuk menuju sesuatu yang telah ditakdirkan untuk Anda.

Tapi jika Anda masih optimis dengan seleksi, nyatanya banyak juga kok yang ketrima jadi Abdi Negara dengan murni tanpa pungutan sepeserpun….

%d blogger menyukai ini: