Iklan

Posts from the ‘Berita’ Category

Kisah Pencipta Black Box Kehilangan Ayah karena Insiden Pesawat


David Warren. Foto: dok. Museums Victoria

JakartaBlack box atau kotak hitam menjadi benda yang paling dicari setelah ada insiden kecelakaan pesawat terbang. Rupanya kisah terciptanya black box juga dilatarbelakangi sebuah kecelakaan pesawat.

Meski disebut kotak hitam, sebetulnya warna benda itu adalah oranye. Black box mampu merekam data pesawat hingga percakapan yang ada di dalamnya sehingga amat berguna dalam investigasi penyebab kecelakaan.

Mantan KSAU Chappy Hakim yang juga pengamat penerbangan menulis dalam bukunya, ‘Berdaulat di Udara: Membangun Citra Penerbangan Nasional’, menulis bahwa mulanya black box dikembangkan untuk kebutuhan riset dan pengembangan. Sehingga industri pesawat terbang bisa terus memperbaiki diri.

Black box yang kita kenal saat ini memiliki 2 komponen besar yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). Di kalangan pakar, istilahnya lebih populer disebut electronic flight data recorders. Sedangkan saat pertama kali ditemukan, namanya adalah ARL Flight Memory Recorder.

ARL Flight Memory Recorder pertama kali ditemukan oleh David Warren (1925-2010). Pada 1952-1983, dia bekerja di Aeronautical Research Laboratories (ARL) sebagai Peneliti Utama Sains. Lembaga yang berpusat di Melbourne, Australia, itu sekarang jadi bagian dari Defence Science and Technology Group.

Dikutip dari situs resmi Departemen Pertahanan Australia, di tahun 1953 David diminta untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan misterius pesawat Comet. Pesawat itu tercatat yang pertama memakai mesin jet.

David terpikir untuk mendesain alat yang bisa merekam percakapan di kokpit. Namun rupanya perlu 5 tahun agar ide brilian David itu dianggap penting di dunia penerbangan.

Inspirasi untuk membuat alat perekam percakapan di pesawat sebetulnya sudah terbersit sejak David kehilangan ayahnya. Ayah David tewas pada tahun 1934 dalam insiden pesawat pertama di Australia. Insiden itu dikenal dengan peristiwa hilangnya Miss Hobart di Selat Bass.

Kado terakhir yang diterima David dari ayahnya adalah sebuah set kristal (crystal set). Gawai ini populer pada masa itu untuk mendengarkan radio.

Masa sekolahnya dia isi dengan hobi merakit radio. Hingga akhirnya di kemudian hari dirinya mendesain purwarupa black box.
(bag/tor)

Sumber: detik.com

Iklan

Dengan Hidroponik Berjuang Membenahi Desa


Ana (42 tahun) seorang petani hidroponik di Karawang sedang memanen hasil taninya, Sabtu (30/12). tirto.id/Jay Akbar

Ana (42 tahun) seorang petani hidroponik di Karawang sedang memanen hasil taninya, Sabtu (30/12). tirto.id/Jay Akbar

Tanaman hidroponik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membuat suasana desa lebih asri.

“Masyarakat di sini dulunya petani. Tapi setelah ada industri otomatis sawah habis. Masyarakat mau kemana?”

Ana (42 tahun) mengenang perubahan tempat kelahirannya Desa Kutanegara, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang dengan nada suara masygul dan air muka pasrah. Menurutnya kehadiran ratusan pabrik di kawasan Karawang International Industry City (KIIC) tidak saja menyudahi sebagian besar sandaran hidup masyarakat, tapi juga berdampak tak sedap bagi lingkungan. “Begitu [industri] dimulai ada panas, debu, dampaknya gersang,” kenang Ana kepada Tirto Sabtu (31/12).

Namun bapak tiga anak ini sadar, keluhan tidak akan menyelesaikan persoalan. Dekade 2015 ia bersama sejumlah masyarakat desa lainnya mendatangi PT Daihatsu Astra Motor di KIIC. Mereka meminta perusahaan ikut membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Kala itu Ana mengusulkan agar jalan menuju pintu masuk desa ditanami beragam jenis pohon buah-buahan. Usul itu dikabulkan.

“Ada sekitar 450 tahun yang ditanam di sepanjang 500 meter. Ada pohon belimbing, jambu, sawo, dan mangga,” ujar Ana.

Dua tahun sejak penanaman pertama, pohon-pohon itu tumbuh merindangi jalan. Gersang terselesaikan.

Persoalan selanjutnya adalah lapangan pekerjaan. Ana mengakui sejumlah perusahaan di KIIC membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk bekerja. Namun tak semua warga bisa memanfaatkan kesempatan itu lantaran terbentur persyaratan pendidikan. Ana mengatakan sebagian besar warga desa seusianya hanya lulusan sekolah dasar. Kalau pun ada yang berhasil dipekerjakan, paling banter hanya menjadi buruh bongkar muat perusahaan. “Saya tidak tamat SD. Cuma kejar Paket A. Waktu itu zaman susah,” kata Ana mengenang masa lalunya.

Awal tahun 2017 kesempatan memperbaiki kesejahteraan akhirnya datang. Salah seorang karyawan dari divisi Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu Astra Motor menghubungi Ana. Sang karyawan memberi kabar tentang adanya pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik di kantor pusat Astra bilangan Sunter Jakarta Utara. Ana dipersilakan datang jika berkenan. “Tanpa pikir panjang bagaimana ongkosnya saya langsung berangkat. Karena [pelatihan] sifatnya ilmu,” ujar Ana.

Pelatihan berlangsung selama satu hari. Dari sana Ana mengaku mendapatkan dasar-dasar ilmu bercocok tanam bersistem hidroponik. Namun ia tidak percaya begitu saja dengan teori-teori yang diberikan. Dalam benaknya: “Masa iya bisa menanam pohon tanpa tanah.”

Didorong rasa penasaran dan keinginan mengakhiri problem kesejahteraan di desanya, Ana nekat mempraktikan ilmu yang ia dapat. Bermodal uang pribadi Rp3.000.000 untuk membeli pipa air sebagai media tanam, nutrisi tanaman, dinamo, dan beberapa perkakas lainnya ia mulai menanam aneka jenis sayuran. Pekarangan rumahnya menjadi “laboratorium” percobaan pertama.

Hasil coba-coba itu ternyata membuahkan hasil menggembirakan. Aneka sayur mayur mulai dari pakcoy, kangkung, selada bokor, bayam hijau, dan bayam merah tumbuh subur. Hasil panen pertamanya itu ia foto dan laporkan ke pihak Daihatsu melalui pesan whatsapp.

Menerima laporan Ana, pihak perusahaan merespons positif. Dana CSR sebesar Rp30.000.000 —yang dibagi dalam dua tahap— dikucurkan untuk Ana mengambangkan usaha. Ana memanfaatkan modal itu untuk mengakumulasi media cocok tanam hidroponik di pekarangannya. Sejak itu usaha hidroponik Ana semakin berkembang. Tak cuma menjual produknya di warung-warung sayur kampung, produk hidroponik Ana bahkan berhasil menembus supermarket ternama seperti Transmart dan Carrefour.

Ana menghitung satu pohon sayuran pakcoy yang ia tanam menghabiskan modal Rp600 dengan harga jual Rp2000. Apabila dalam sehari ia bisa bisa menjual 10 pohon pokcai di 15 warung kampung maka omzet perhari yang ia dapatkan adalah Rp300.000 dengan keuntungan bersih rata-rata Rp210.000 per hari. Belum termasuk untung dari kangkung, selada bokor, bayam merah, dan bayam hijau. “Ini sambil tiduran juga bisa hasilkan uang, kalau kita mau fokus,” ujarnya.

Perlahan masyarakat desa mulai melirik bisnis yang digeluti Ana. Kepada mereka Ana tak segan berbagi ilmu. Baginya semakin banyak masyarakat yang menggeluti bisnis hidroponik justru akan semakin baik. Sebab selain bisa mengangkat perekonomian masyarakat, ia juga bisa mengembangkan bisnisnya ke sektor penyediaan jasa pembuatan hidroponik, penjualan nutrisi dan bibit, serta pemasaran. “Ada sih yang ingatkan ilmu berharga jangan diumbar. Saya sih gak masalah,” katanya.

Ana mengatakan hidroponik merupakan sistem cocok tanam yang paling relevan untuk dikembangkan di desanya. Sebab sistem ini tidak membutuhkan lahan luas, bernilai jual tinggi, dan lebih menyehatkan untuk dikonsumsi karena terbebas dari pestisida. “Ini kan (sayuran hidroponik) secara umum konsumsi orang kaya. Dengan hadirnya di sini masyakat bisa merasakan. Sehingga kesehatan masyarakat lebih terjaga,” ujar Ana.

Di tahun 2018 Ana bertekad menjadikan Desa Kutanegara sebagai desa hidroponik. Ia memproyeksikan dari 43 gang yang ada di desa bisa ditanami 1.700 tanaman hidroponik. Ia melihat ribuan karyawan yang bekerja di kawasan KIIC merupakan potensi pasar yang besar. “Jangan bicara pemasaran ke luar dulu. Di sini ada ribuan karyawan, pasarnya belum tergarap dan tergali,” katanya.

Ana juga yakin tanaman hidroponik bukan saja akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desanya, tapi juga membuat suasana kampung lebih teduh dan asri. “Selain memberi nilai ekonomi masyarakat, hidroponik juga bisa untuk penghijauan,” ujarnya.

Tati salah satu pemilik warung di Desa Kutanegara mengakui sayuran pakcoy hidroponik dari Ana cukup digemari pembeli. Hal ini karena sayuran itu lebih segar dan harganya terjangkau. Ia menjual sayuran pakcoy dari ana sehargar Rp3000 perpohon. “Rasanya tidak pahit, beda dengan sawi biasa,” ujarnya.

Pinus Lingga dalam Hidroponik: Bercocok Tanam Tanpa Tanah menyebut istilah hidroponik digunakan untuk menjelaskan tata cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Model cocok tanam semacam ini menurutnya telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu oleh masyarakat Babilonia dan Cina.

Pada tahun 1936 istilah hidroponik diberikan untuk hasil tanaman tomat yang dikembangkan seorang agronomis Universitas California Amerika Serikat DR. WF. Gericke. Ia berhasil menanam tomat hingga setinggi tiga meter dengan buah melimpah dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya. “Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics [yang berarti] bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah,” kata Pinus.

Pinus mengatakan ada 10 keuntungan dari sistem cocok tanam hidroponik: 1) perawatan lebih praktis serta gangguan hama lebih terkontrol. 2) Hemat pemakaian pupuk. 3) Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru. 4) Tidak membutuhkan banyak tenaga kasar karena metode kerja lebih hemat dan memiliki standarisasi. 5) Tanaman dapat tumbuh lebih pesat dan dengan keadaan yang tidak kotor. 6) Hasil produksi lebih tinggi dan berkelanjutan. 7) Harga jual lebih tinggi. 8) Bisa dibudidayakan di luar musim. 9) Tidak ada risiko banjir, erosi, kekeringan, dan ketergantungan terhadap kondisi alam. 10) Dapat dilakukan pada lahan terbatas.

Departement Head CSR Astra Daihatsu Motor Rony Hapsoro mengatakan perusahaan bersedia menggelontorkan dana CSR kepada Ana dan warga Desa Kutanegara lantaran turut bertanggung jawab terhadap kondisi yang ada. Rony mengaku bangga dengan pencapaian yang telah dihasilkan Ana. Ia menyatakan perusahaan siap mewujudkan impian Ana menjadikan hidroponik sebagai identitas Desa Kutanegara. “Kami bermimpi menjadikan Desa Kutanegara sebagai desa hidroponik,” katanya.

sumber: tirto.id

NUR HAMDANI, GELUTI TANAMAN SAYURAN HIDROPONIK DI KAMPUNGNYA


Nur Hamdani saat merawat tanaman sayuran hidroponik di belakang rumahnya.

PURBALINGGA, INFO – Berbekal pengalaman dari teman-temannya yang sukses menggeluti tanaman sayuran hidroponik, Nur Hamdani (34) warga Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, kini terjun menggeluti budidaya sayuran hidroponik. Di areal yang tidak begitu luas di kampung halamannya itu, sejak bulan Juni 2017 silam, Nur menanam berbagai jenis tanaman sayuran secara hidroponik. Semula, Nur bekerja membantu keluarga dan kakaknya membuat berbagai aneka kerajinan bambu.

“Saya mulai membudidayakan tanaman hidroponik saat teman-teman banyak yang berhasil. Setelah saya ikut belajar, akhirnya terjun sendiri memanfaatkan lahan di belakang rumah,” kata Nur Hamdan, Jum’at (2/3).

Diungkapkan Nur, cara bertanam hidroponik menjadi booming dan trend di sebagian masyarakat. Teknik bercocok tanam ini semakin disukai banyak kalangan. Cara bertanam hidroponik adalah cara bertanam tumbuhan menggunakan media air, nutrisi dan oksigen. “Saya membangun rumah kaca sendiri berukuran 8 x 18 meter di belakang rumah. Saya tanam berbagai jenis sayuran seperti bayam merah, pokcay, sawi dan sayuran lainnya,” ungkap Nur.

Untuk modal membuat sarana tanaman hidroponik, Nur mengaku telah menghabiskan dana sekitar Rp 60 juta. “Jika dihitung, modal itu sampai sekarang belum kembali, namun karena saya senang menggeluti budidaya tanaman hidroponik, maka perhitungan keuntungan belum saya cermati,” kata Nur yang merawat tanaman itu sendiri dengan dibantu istrinya.

Nur mencontohkan, untuk tanaman sawi, dirinya bisa menjual satu kilogram ke supermarket di Purwokerto seharga Rp 15 ribu. Kalau ada pembeli yang datang ke rumahnya, mereka bisa memilih dan memetik sendiri. Harganya hanya sekitar Rp 12 ribu. “Permintaan sayuran hidroponik sebenarnya cukup baik. Supermarket di Purwokerto dan juga permintaan beberapa hotel, tidak sanggup dicukupinya,” kata Nur.

Sistem penjualan yang dilakukan Nur dengan bergabung bersama sejumlah petani sayuran hidroponik lainnya di Purwokerto. Setelah hasil panenan dikumpulkan, barulah dikirim ke hotel atau super market yang meminta. “Untuk tanaman afkir, biasanya dijual di pasar Panican Kemangkon. Atau, saya manfaatkan sendiri untuk dijual sebagai bahan lalapan. Kebetulan, ibu saya membuka usaha kuliner makanan tahu banting. Tahu yang telah dibumbui itu, ditempatkan dalam satu wadah cobek dari tanah liat dan dilengkapi lalapan sayuran,” kata Nur.

Nur mengaku akan terus mengembangkan budidaya sayuran secara hidroponik ini. Saat ini, sudah mulai banyak pengunjung yang datang untuk membeli sayuran di kebunnya, sekaligus berfoto-foto di dalam arena kebun. Selain itu, beberapa anak-anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak dari tetangga desanya, juga diajak ke kebun miliknya, untuk sekedar mengenal budidaya tanaman hidroponik. “Konsumen dari kalangan keluarga, sudah mulai banyak yang tahu tempat kami. Mereka datang untuk membeli sayuran hidroponik, dan beberapa diantaranya sembari menikmati makanan tahu banting,” tutur Nur.

Khusus untuk kuliner tahu banting, kata Nur, disebut demikian karena cobek yang digunakan setelah makan bisa langsung dibanting. Satu porsi tahu banting dihargai Rp 10 ribu. “Cobek yang dipakai alas tahu itu, setelah selesai untuk makan,. Bisa langsung dibanting. Hal ini dimaksudkan untuk membantu perajin gerabah cobek agar tetap laku. Kalau cobeknya dipakai lagi, nanti pedagang cobeknya tidak laku,” ujarnya setengah promosi.

Untuk menikmati kuliner ini, pengunjung juga bisa bersantai di gubug bambu di sekitar lahan budidaya tanaman hidroponik. Hamparan sawah yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari gubug itu semakin menambah suasana alami pedesaan yang sejuk. (PI-1)

 

sumber: jatengprov.go.id

Merdeka dengan Sistem Otomasi Hidroponik


Merdeka dengan Sistem Otomasi Hidroponik

Sistem Otomasi Hidroponik

(UKWMS-14/8/2017) Ada banyak cara merayakan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke 72 tahun ini, dua tim mahasiswa dan dosen dari Fakultas Teknik (FT) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memilih untuk merayakannya dengan berkarya. Dua buah rangkaian Teknologi Tepat Guna (TTG) berhasil mereka inovasikan dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan ilmu yang mereka dalami di Jurusan Teknik Elektro FT UKWMS. Adalah Maria Angela Kartika dengan karyanya Otomasi Sistem Hidroponik NFT dan Fandri Christanto dengan Mesin Pengering Otomatis Hemat Energi yang baru tanggal 12 Agustus 2017 kemarin meraih gelar juara 3 dan juara harapan pertama dalam Lomba Pengolahan Hasil Perikanan dan Teknologi Tepat Guna yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

“Belum pernah ada alat untuk mengendalikan sistem hidroponik yang otomatis menutrisi sayuran yang ditanam, sekaligus mengendalikan kadar nutrisi dalam air yang dipergunakan sesuai kebutuhan yang ditetapkan,” demikian terang Andrew Joewono ST., MT selaku dosen yang menelurkan ide yang lantas diwujudkan oleh Angela dalam karyanya tersebut. “Ya awalnya saya ingin menciptakan suatu alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua saya saat pensiun nanti. Kalau sistemnya otomatis begini, kan lebih merdeka dari kerepotan bertani hidroponik yang pada umumnya,” tutur Angela yang menyelesaikan karyanya di bawah bimbingan Yuliati, S.Si., MT dan Drs. Peter R. Angka M.Kom tersebut.

Yuliati_Peter R Angka (Dosen Pembimbing) dan Angela saat memeragakan sistem otomasi hidroponik NFT

Selain demi orangtuanya, ide Angela ternyata juga bermula dari keprihatinan atas kurangnya lahan yang dapat digunakan untuk bercocok tanam di Surabaya. Berdasarkan sistem berlahan menggunakan Hidroponik, kelebihan dari mesin inovasinya adalah mampu diaplikasikan dengan lahan terbatas dan juga lebih hemat biaya listrik karena ada periode pompa. Ia berhasil memodifikasi sistem aliran air menggunakan dua tandon, dari bawah dipompa ke atas, sehingga ketika tandon atas sudah penuh secara otomatis pompa akan mati dan sistem dapat bekerja tanpa menarik daya listrik. “Kira-kira yang dihemat dalam konsumsi daya adalah 37,77 Kwh atau bila dirupiahkan dengan asumsi batas daya 1300VA kurang lebih adalah 55.000 Rupiah,” terang gadis kelahiran Malang tersebut. Mesin ini juga mampu untuk menyeimbangkan kadar nutrisi yang dibutuhkan tanaman dengan cara mengatur alat menggunakan sensor TDS (Total Dissolved Solid) sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Keunikan lain dari karya Angela adalah ia berhasil memanfaatkan beberapa barang bekas untuk membangun sistem tersebut. Tandon air yang dipergunakan adalah gentong plastik bekas bahan kue, selain itu rangka besi penunjang alat didapatkan dari beberapa tempat loak. Sebagai rangka ‘meja’ tanaman hidroponik sayuran berdaun yang ia tanam, Angela menggunakan beberapa batangan galvalum yang ia rakit sendiri. Setelah melalui proses coba salah berulang kali selama enam bulan, akhirnya jadilah serangkaian alat berdimensi panjang tiga meter kali lebar satu meter dengan tinggi dua meter. Alat tersebut ditunjang dengan sebuah ‘menara’ yang mengusung dua buah tandon air dengan sistem pemberi nutrisi di bagian tengahnya. (Red)

sumber: ukwms.ac.id

Alat Terapi Kanker Warsito Sukses Diuji pada Tikus


Pekerja menunjukan teknologi Electronic Capacity Cancer Therapy (ECCT) buatan Warsito di CTECH Lab Edwar Technology, Tangerang Selatan, 11 Januari 2016. Alat tersebut mampu mendeteksi penyakit kanker dan diklaim pemerintah lebih canggih dari buatan Israel. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Tangerang – C-Tech Labs mengklaim teknologi terapi kanker berbasis listrik yang dikembangkan Dr Warsito P. Taruno dan tim di PT C-Tech Lab Edwar Teknologi, ECCT atau Electro-Capacitive Cancer Therapy, mampu menghambat laju pertumbuhan sel kanker pada tikus.

Paten ECCT diloloskan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada September 2017 dengan nomor IDP000047826. “Hasil riset terbaru, ECCT mampu menghambat laju pertumbuhan sel kanker pada tikus,” ujar Dr Firman Alamsyah, Kepala Laboratorium Biofisika, C-Tech Labs, melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, 4 Juli 2018.

ECCT pada hewan coba tikus yang diselenggarakan di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, dipublikasikan di Kongres Dunia 50 Tahun European Association of Cancer Research (EACR) yang diselenggarakan di Amsterdam, Belanda, pada 30 Juni-3 Juli 2018.

Klaim ini berdasarkan percobaan yang dilakukan bersama tim mahasiswa dan dosen Fakultas Biologi UGM terhadap 24 ekor tikus yang dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing enam tikus, dua kelompok tikus yang diinduksi dengan tumor dan dua kelompok tikus placebo.

Satu kelompok tikus yang diinduksi tumor dan satu kelompok tikus placebo dilakukan pajanan medan listrik dari ECCT yang didesain dalam bentuk kandang tikus dengan intensitas mencapai 200mVolt/cm pada bagian tengah kandang, dengan frekuensi yang diberikan berkisar 100kHz hingga 300kHz.

Intensitas yang diberikan itu setara atau sedikit lebih rendah di bawah intensitas paparan listrik statis yang keluar dari smartphone pada umumnya. Pemaparan terhadap tikus dilakukan selama 10 jam per hari selama tiga minggu berturut-turut.

Riset yang dilakukan di fasilitas laboratorium milik Fakultas Biologi UGM selama 2017 ini merupakan tindak lanjut dari riset awal terhadap sembilan ekor tikus yang dilakukan di Bimana Indomedical bersama dengan peneliti Bimana dan Pusat Studi Satwa Primata IPB.

Saat ini, riset ECCT juga dilakukan di RS Dr Soetomo Surabaya untuk riset klinis yang dibiayai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Data yang dipublikasikan Firman menunjukkan tingkat penghambatan rata-rata dari pertumbuhan awal 0,121 cm2/hari berkurang menjadi rata-rata 0,01 cm2/hari atau rata-rata mencapai tingkat penghambatan hingga 92 persen secara volume.

Hasil lab darah dan patologi anatomi terhadap jaringan tumor tikus juga menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan pada fungsi ginjal dan liver, ritme jantung, dan jumlah hitungan sel darah pada tikus yang diinduksi tumor serta tikus sehat yang diberi pajanan medan listrik ECCT.

Hasil patologi anatomi jaringan tumor menunjukkan meningkatnya aktivitas sel darah putih (limfosit) dan sel makrofaji lebih dominan pada tikus yang diberi pajanan medan listrik.

Dr Firman mengklaim hal itu menandakan bahwa ECCT mendorong kerja sistem imunitas tubuh menjadi lebih aktif dengan memproduksi sel darah putih dan sel makrofaji lebih banyak untuk memakan dan menyerap sel-sel kanker yang sudah mati.

“Proses kematian sel kanker seperti ini bisa terjadi karena ECCT bekerja selaras dengan aktivitas sistem imunitas tubuh pada tikus, sehingga kematian yang terjadi berlangsung secara alamiah,” tuturnya.

Menurut Dr Warsito, frekuensi alat ECCT dirancang untuk menghasilkan medan listrik agar terjadi interaksi melalui mekanisme polarisasi listrik statis pada tingkat mikrotubula pada inti sel untuk mempengaruhi distribusi medan listrik pada tingkat molekuler inti sel kanker sehingga bisa mengacaukan pembelahan sel dan mendorong sel kanker melakukan self-destruction (bunuh diri).

Hasil penelitian pada tikus di UGM menunjukkan proses kematian sel kanker yang berbeda-beda, yang secara umum dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, proses lysis (luruh) yang ditandai dengan nodul tumor yang berangsur-angsur mengecil hingga hilang.

Kedua, proses detachment (lepas) yang ditandai dengan proses nodul tumor yang berangsur-angsur menghitam, mengering, dan lepas dari posisinya, meninggalkan luka terbuka yang kemudian berangsur-angsur mengering dan menutup dengan sendirinya.

Terakhir, proses kistik, yang ditandai dengan nodul padat yang berubah menjadi kista cair (nekrosis) dengan volume yang cenderung membesar tapi melunak/mencair.

Warsito menjelaskan, medan listrik yang dihasilkan alat ECCT berinteraksi dengan listrik statis yang mengalami polarisasi cukup tinggi pada molekul mikrotubula di dalam sel kanker yang sedang membelah.

Mikrotubula adalah benang-benang serabut, yang disebut spindle, yang bekerja sangat intens selama proses pembelahan sel untuk memisahkan kromosom yang telah mengalami duplikasi menuju ke kedua kutub sel untuk membentuk dua inti sel yang identik.

Mikrotubula adalah struktur makromolekul yang disusun oleh gabungan senyawa yang lebih kecil, yang disebut tubulin dimer, yang tersambung satu dengan yang lainnya secara ikatan listrik statis. Akibatnya, secara kimiawi, strukturnya relatif stabil, tapi secara fisika mudah rusak oleh pengaruh medan listrik dari luar.

“Medan listrik yang dibangkitkan oleh alat ECCT menghasilkan gaya momen listrik yang bekerja sebagai electric-scissors (gunting listrik) yang menimbulkan electric-shear force (gaya geser) yang memutus ikatan listrik statis pada struktur molekul mikrotubula pada saat sel sedang membelah,” kata Warsito.

“Pada saat sel sedang diam atau tidak sedang membelah, mikrotubula tidak dalam posisi yang ‘terentang’ sehingga tidak mudah diputus oleh ‘gunting listrik’ dari alat ECCT. Karena itu, ECCT hanya bekerja pada saat sel sedang mengalami pembelahan,” ucap Warsito.

“Pembelahan sel bisa terjadi baik pada sel kanker maupun sel sehat, tapi pembelahan sel kanker terjadi lebih massif sehingga efek destruktif terhadap sel kanker lebih besar,” tuturnya.

Warsito juga menambahkan bahwa gaya momen listrik yang bekerja sebagai “gunting listrik”, selain dipengaruhi tingkat polaritas sel kanker yang berbeda berdasarkan jenis sel, dipengaruhi oleh sifat dielektrika jaringan sekitar sel kanker.

Kekuatan gaya momen listrik ini, yang dipengaruhi oleh jenis sel kanker dan jaringan sekitar tempat sel kanker berada, kemungkinan yang menentukan proses bagaimana sel kanker mati, atau bisa juga tidak cukup bisa mati apabila gaya momen listrik ini tidak cukup kuat.

“Hasil riset tikus yang menunjukkan bahwa ECCT bekerja selaras dengan sistem imunitas tubuh membuka potensi pengembangan terapi baru terhadap kanker dengan menggabungkan ECCT dengan metode immunotherapy,” kata Warsito.

Terapi imunitas mulai populer beberapa tahun terakhir setelah mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, meluncurkan National Cancer Moonshot pada 2016 dengan metode terapi imunitas sebagai pilar utamanya.

PT C-Tech Labs pada beberapa tahun yang lalu juga giat membangun kerja sama pengembangan metode terapi ECCT digabungkan dengan terapi imunitas dengan dokter peneliti klinis di beberapa negara, antara lain Polandia, Jepang, dan Jerman.

sumber: Tekno Tempo.co.

Bend Your Mind: Atmel XSense Design Contest


 

Pada kesempatan ini Atmel membuka peluang bagi desainer untuk membuat sebuah ide yang memanfaatkan sensor sentuh produksi Atmel.

Pada kontes ini hadiah yang tawarkan:

1. Hadiah pertama: $ 1.500
2. Hadiah kedua: $ 500
3. Bonus untuk desain teknis terpilih: $ 1500 hadiah pertama, $ 500 hadiah kedua

Desain harus sudah diterima paling lambat tanggal 16 Juni 2014, pukul 11:59 PM waktu Pasific.

Informasi lengkap disini.

Canggih! Petani Jepang Sudah Pakai Cloud Computing


ilustrasi

ilustrasi

Tokyo – Para petani di Jepang sudah mulai memanfaatkan teknologi canggih untuk mengembangkan hasil panen mereka. Tidak tanggung-tanggung, sejumlah sensor diletakkan untuk menjaga tanaman mereka.

Fungsi sensor tersebut bermacam-macam. Ada yang dibuat untuk mendeteksi tingkat kelembaban, prediksi hujan, dan lainnya. Semua itu disatukan dalam satu sistem yang bisa dipantau melalui smartphone dan tablet PC.

Data yang dihasilkan oleh sensor tersebut kemudian diolah oleh Fujitsu melalui perangkat khusus. Kemudian data tersebut disimpan ‘di awan’ agar para pengguna bisa mengakses dari mana pun, komputer rumah, tablet PC, atau bahkan smartphone.

Sistem tersebut dibuat oleh Fujitsu, dan konon sudah mulai digunakan oleh Fukuhara, Shinpuku Seika, Aeon Agri Create dan Sowakajeun. Semua itu adalah instansi pertanian yang beroperasi di Jepang.

“Kami mengerti bagaimana pentingnya peran ICT dalam pertanian. Teknologi ini bisa dipakai untuk menjaga kualitas hasil panen,” kata Masami Yamamoto, President Fujitsu Limited di sela-sela Fujitsu Forum 2013 di Tokyo International Forum 15-16 Mei 2013 yang turut dihadiri detikINET.

Selain bisa menjaga kualitas hasil panen, teknologi tersebut juga diklaim Fujitsu bisa dipakai untuk mencegah gagal panen yang biasanya diakibatkan oleh kondisi cuaca yang tak terduga.

Untuk bisa mencicipi teknologi tersebut para petani tak perlu membangun infrastruktur khusus, karena semua peralatan dan proses instalasi dikerjakan oleh Fujitsu.

Biaya untuk menggunakannya pun tidak terlalu mahal, setiap bulan penggguna dikenakan biaya mulai dari Yen 40 ribu (sekitar Rp 3,8 juta), dan biaya instalasi awal sebesar Yen 50 ribu (Rp 4,7 juta).

Lalu bagaimana peluangnya di Indonesia yang dulu sempat digaung-gaungkan sebagai negara agraris? Menurut Ewin Tan selaku Head of Product Management Fujitsu Indonesia, teknologi tersebut bisa saja dibawa ke Tanah Air jika ada petani lokal yang menginginkannya.

“Kalau dibilang mungkin, ya mungkin. Karena sebenarnya memang bisa dipakai di Indonesia,” tandas Ewin.

(eno/ash)

sumber: detik.com

 

%d blogger menyukai ini: